Showing posts with label OneShoot. Show all posts

Play Love - Upi Hwang (OneShoot)

Play Love - Upi Hwang (OneShoot)







Cast          : Jang Wooyoung (2PM), Park Hyomin (T-Ara).

Other cast : All member 2PM and T-Ara.

Genre         : School-life, Romance, Friendship.

Cover by    : ReniArt

Author        : Upi Hwang.

Lenght        : Oneshoot.








Warning!


        Typo bertebaran, Alur kecepetan, Gaje, abal dan ide pasaran. Ooc. Dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan. Maklum author abal-abal.
      Sesungguhnya para tokoh bukan milik author, melainkan milik agensi dan orang tua masing-masing, author hanya memakai mereka untuk keperluan cerita.












Happy Reading!
(Don't like, don't read).









        ''Yak kau......,'' panggil seorang yeoja. Yang dipanggil menengok kebingungan, dia melihat ke arah lain dan kembali menatap sang yeoja, sambil menunjuk dirinya sendiri. ''Ne, kau. Kemari kau!''
       ''Maaf, ada apa ne?'' tanya orang itu.
       ''Apa yang sudah kau lakukan heoh pada eonniku? Hingga membuatnya menangis!''
       ''Eonni? Menangis? Nuguseyo?'' ucapnya bingung, kerutan di keningnya bermunculan. Karna ia tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh sang yeoja ditambah lagi ia tak mengenal yeoja itu.
        ''Jangan pura-pura tidak tau kau! Dasar namja sia.......'' Belum sempat sang yeoja menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja ada suara yang memanggilnya.
        ''Yak, Park Hyomin!'' Sang yeoja yang ternyata bernama Hyomin, bergidik ngeri. *Ah, eonni ini pasti akan mencegah dan memarahiku!* batin Hyomin.
       Wanita yang memanggil Hyomin mendekat, ''yak sudah kubilang Hyominnie, kau salah paham!''
        ''Soyeon eonni, sudah jelas-jelas Boram eonni menangis karna namja ini!'' Hyomin menunjuk-nunjuk namja yang masih berdiri mematung di sana karna tidak tau apa-apa.
        ''Sudah kubilang kau salah paham! Bukan dia namjanya!'' ucap Soyeon marah ah tidak, sangat marah!
         ''Jin- Jah-yo, eon-ni?'' tanya Hyomin gugup, apalagi saat ia melihat raut marah di wajah cantik Soyeon.
        ''Ne, tapi namja itu yang sudah membuat Boram eonni menangis!'' Soyeon menunjuk ke arah lain dan di sana juga ada Boram yang sedang menampar namja itu. Mata Hyomin terbelalak.
       ''Jang-ssi, jeoseonghamnida. Dan maaf atas kelakuan adikku ini!'' ucap Soyeon lembut kepada namja bermarga Jang itu.
        ''Ne, noona? Gwaenchana.''
        Lalu Soyeon menyuruh Hyomin meminta maaf kepada namja itu. Sang yeoja hanya diam saja. Malu dan gengsi, itulah perasaannya saat ini. ''Yak Hyominnie, cepat minta maaf!'' suruh dan bentak Soyeon.
       ''Gwaenchan....''
       ''Mianhae,'' ucap Hyomin sebelum namja itu selesai bicara. Mereka berdua (Namja itu dan Soyeon), terkejut. Hening.
        ''Ah ne, gwaenchana,'' ucap sang namja gugup.
       ''Wooyoung-ssi, maafkan kami!''
       Namja itu, yang ternyata bernama Wooyoung mengangguk. Kemudian Soyeon langsung menarik paksa Hyomin pergi menjauh.



Di Kantin



        ''Yak eonni, lepaskan! Kau membuat tanganku sakit!'' ucap Hyomin berteriak.
        ''Kau masih bisa membentakku huh?'' ucap Soyeon tak kalah tingginya. Hyomin langsung menunduk.
        ''Mianhae eonni, itu semua karna kau terlalu erat memegang tanganku,'' ucap Hyomin yang mulai ketakutan. Soyeon melepaskan pegangannya pada Hyomin. Setelahnya Soyeon meninggalkan Hyomin untuk menyusul Boram yang sedang bersama Qri.

.
.

        ''Ah, dia membuatku malu di depan namja itu!'' gerutu Hyomin sambil mengaduk-aduk minumannya.
        ''Kau kenapa Hyominnie?'' tanya Eunjung mengagetkan Hyomin. Wanita itu duduk di hadapan Hyomin dan langsung memakan mie -nya Hyomin yang sudah mulai dingin karna tak disentuh sedari tadi.
        ''Dia sudah membuatku malu. Aku memarahi orang yang tak tau apa-apa, lalu dia datang dan membentakku. Serta ia menyuruhku meminta maaf. Ah aku benci hal itu!'' curhat Hyomin panjang dan lebar. Sedangkan Eunjung? Dia mendengarkan ocehan Hyomin sambil memakan mie -nya Hyomin yang mengakibatkan mie -nya Hyomin hanya tinggal setengah. Hyomin yang merasa tak diperhatikan, melihat ke depannya. Dan, ''yak Eunjung oppa, apa yang kau lakukan dengan mie -ku?'' tanya Hyomin hampir berteriak melihat nasib mie -nya yang sudah tinggal setengah. Dia juga tidak sadar kalau ia memanggil Eunjung dengan sebutan oppa.
        ''Ne Hyominne, aku melihat kau tidak menyentuh mie -mu sama sekali. Kebetulan aku juga sedang lapar. Dari pada aku harus menunggu, lebih baik ku makan saja punyamu!'' ucap Eunjung menjelaskan.
        ''Yak sudahlah, habiskan saja itu!'' ucap Hyomin kesal. Dan tak berapa lama,
        ''noona?'' Hyomin dan Eunjung melihat ke arah namja yang baru saja memanggil.
        ''Ouh Chansungie,'' ucap Eunjung dengan mulut penuh.
        ''Eonni, jaga sikapmu!'' bisik Hyomin.
        ''Memangnya kenapa?'' tanya Eunjung santai, masih dengan mulutnya yang penuh makanan.
        Hyomin memberikan isyarat dengan matanya. Eunjung bingung, tapi ia mengikuti arah mata Hyomin. ''Uhuk...., uhuk......'' Eunjung tersedak ketika dia melihat seseorang di samping Chansung, yang tidak lain adalah Taecyeon. ''Air.....,'' ucap Eunjung tanpa bersuara, karna ia masih terbatuk-batuk.
       Kebetulan, Taecyeon pun membawa air botol, dan ia memberikannya kepada Eunjung.
       Air yang baru diminum sedikit oleh Taecyeon, langsung diminum hampir setengah botol oleh Eunjung. ''Gomaweo,'' ucap Eunjung malu sambil memberikan airnya.
        ''Eonni, kau tidak apa*?'' tanya Hyomin khawatir.
       ''Ne noona, kau tidak apa-apa?'' tanya Chansung tak kalah khawatir.
       ''Ne, gwaenchana.''
       ''Lain kali kau harus lebih berhati-hati,'' saran Taecyeon. Eunjung mengangguk.
       ''Kebiasaan!'' cibir Hyomin.
       ''Hei, apa kau bilang heoh?'' tanya Eunjung marah. Dan tanpa ia sadari, Taecyeon sudah duduk di sisi sampingnya dan Chansung di samping Hyomin.
      Eunjung melirik ke arah Taecyeon, ia melihat Taecyeon sedang meminum airnya. *Mwo, dia meminumnya!* batin Eunjung berteriak.
       Karna merasa diperhatikan, Taecyeon menengok ke arah Eunjung. ''Apa kau ingin air lagi?'' tanya Taecyeon polos. Eunjung langsung menggeleng.
       ''Ani.......,'' ucap Eunjung gugup.
       ''Dia itu memang seperti itu oppa, jika sedang.......''
        ''Hyominnie!'' teriak Eunjung memotong perkataan Hyomin. ''Aish bocah ini.....'' Eunjung akan menjambak rambut Hyomin, namun tangannya dipegang oleh Taecyeon, diapun menengok.
        ''Sudahlah, Jungie-ya. Habiskan dulu makananmu!'' ucap Taecyeon lembut.
       ''Ne kau benar!'' Eunjung pun melanjutkan makannya namun sesuatu yang diinginkan Eunjung terjadi.
        ''Oppa, tadi kau benar-benar meminum air itu?'' tunjuk Hyomin pada botol yang dipegang Taecyeon. Taecyeon mengangguk.
        ''Ne, wae?''
        ''Ah oppa, itu berarti secara tidak langsung kalian habis berciuman!'' ucap Hyomin santai.
         ''Yak Hyominnie, apa yang kau katakan heoh?'' Kesal Eunjung.
         ''Uggghhh eonni, kalian berdua sama saja! Sebenarnya kalian itu pura-pura polos, atau memang polos sih? Oppa jelas-jelas kau meminum air di botol yang sama dengan air yang Eunjung eonni minum dan..... ''
        ''Berhenti Hyominnie!''
        Eunjung mulai berusaha menyentuh rambut Hyomin. Sedangkan dua insan lainnya masih berdiam diri karna bingung. Apalagi Chansung yang sedari tadi hanya diam.
        Hyomin yang sedang berusaha meloloskan diri dari eonninya itu, melihat ke arah lain. ''Ouh itu,'' ucapnya ketika melihat Wooyoung di kejauhan yang akan menuju ke arah mereka. ''Ah eonni,'' ucap Hyomin gugup.
         ''Wae?''
         ''Lebih baik kita pergi sekarang eonni. Aku mohon!'' ucap Hyomin manja.
        Eunjung memicingkan matanya. ''Baiklah, ayo!'' Eunjung menatap ke arah Chansung dan Taecyeon. ''Kami pergi dulu, annyeong,'' ucap Eunjung.


       Ketika dua itu pergi. ''Mereka kenapa hyung?'' tanya Chansung yang masih bingung. Taecyeon hanya mengangkat baahu, lalu meminu, airnya kembali.
       ''Aneh!'' ucap suara khas dari belakang.
       ''Ouh Wooyoungie, sejak kapan kau di sini?'' tanya Taecyeon ketika Wooyoung duduk di sampingnya.
        ''Sejak kedua yeoja itu pergi,'' jawabnya santai sambil meminum minuman milik Chansung.
        ''Hey hyung, itu minumanku!'' ucap Chansung memasang wajah bosan.
       ''Sudahlah, aku hanya memintanya sedikit!''


.
.
.
.


        Beberapa hari kemudian, setelah kejadian memalukan itu, Hyomin berusaha menghindari Wooyoung. Dan saat ini di toilet wanita.
       ''Ouh, kenapa wajahku cantik sekali!'' narsis seorang yeoja di depan cermin.
       ''Heoh, bangga sekali kau eonni!'' ejek yeoja yang baru datang dan berdiri di samping yeoja tadi. ''Eonni, kau mulai lagi! Jika kau memang cantik, maka bertaruhlah denganku!'' lanjutnya.
       ''Apa?''
       ''Kau tertarik eonni? Tapi kurasa kau takkan bisa melakukannya!'' yeoja itu meremehkan.
       ''Heoh, memangnya apa taruhanmu?'' tanya sang yeoja menantang.
       ''Kau tau, di sini ada satu namja yang hampir tidak pernah terlibat skandar apapun dengan wanita.''
        ''Lalu?''
        ''Kau pasti mengerti Hyomin eonni!''
        ''Mendekatinya?'' tanya Hyomin memastikan.
        ''Bukan hanya mendekatinya, tapi ajaklah dirinya kencan!''
        ''Baiklah. Dan siapakah orang itu?''
        ''Tapi kau tidak boleh mundur eonni.''
        ''Yak Jiyeonnue, cepat katakan aku berjanji tidak akan mundur!''
        Jiyeon, ia memicingkan matanya. Lalu tersenyum meremehkan. ''Apa kau yakin eonni?'' tanyanya. Hyomin mengangguk yakin. ''Baiklah, kita deal, ne?'' Hyomin kembali mengangguk. ''Aku akan memberitahu nanti!''

.
Jam Istirahat,
.

        ''Kita mau apa ke sini, Jiyeonnie?'' tanya Hyomin ketika mereka baru saja berada di dekat lapangan basket.
       ''Tentu saja untuk mengetahui pria itu...''
       ''Maksudmu, pria yang akan........'' Jiyeon mengangguk, bahkan sebelum Hyomin menyelesaikan perkataannya.
       Jiyeon terus mengedarkan pandangannya ke penjuru lapangan. ''Sebenarnya, pria mana yang mau kau tunjukkan padaku?'' tanya Hyomin kesal, karna sedari tadi ia hanya berdiri memperhatikan Jiyeon yang masih mencari. ''Apakah pria itu hoobaeku? Atau sunbaeku?''
       ''Aish diamlah eonni......,'' desis Jiyeon.
       ''Yak.....''
       ''Ah itu dia!'' potong Jiyeon semangat, sambil menunjuk ke arah pria yang dimaksud. Hyomin melihatnya, lalu ia membulatkan matanya dan menelan ludahnya paksa.
        ''Apa kau yakin, Jiyeon-ah?'' tanya Hyomin ragu, sambil mengerutkan keningnya. Jiyeon mengangguk pasti.
        ''Ne, wae eonni?'' tanya Jiyeon yang bingung melihat ekspresi Hyomin. ''Ah, atau kau mau mundur, eonni?'' tanya Jiyeon curiga.
        ''A-ani,'' jawab Hyomin sedikit ragu. ''Tapi bisakah prianya itu bukan dia?''
        Mendengar pertanyaan itu Jiyeon malah terkekeh. ''Bilang saja kau mau mundu, eonni!'' ucapnya dengan nada menggoda. Hyomin yang mendengarnya jadi kesal.
       ''Araseo, mari kita lakukan!'' tantang Hyomin.
       ''Deal?'' Jiyeon mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Hyomin.


.
.
.
.
.


          ''Wooyoung sunbaenim?''
         Wooyoung yang sedang berjalan di koridor, menghentikan langkahnya dan menengok. ''Ne, waeyo Jiyeon-ssi?'' tanya Wooyoung bingung.
         Jiyeon tersenyu manis saat Wooyoung bertanya seperti itu. ''Akhir pekan ini, apakah kau ada waktu sunbaenim?''
         ''Entahlah. Memangnya ada apa?'' tanyanya lagi.
         ''Maukah kau keluar bersamaku?''
       Wooyoung mengernyitkan dahinya ketika mendengar ajakan dari hoobaenya itu. ''Maksudmu, kencan?''
         ''Bisa dibilang seperti itu sunbae,'' jawab Jiyeon masih dengan senyuman manisnya.
         ''Maaf, aku tidak bisa,'' tolak Wooyoung dingin. Setelahnya ia berjalan kembali meninggalkan Jiyeon yang melongo.



-Jam Istirahat-


          ''Hem, ano. Jang Wooyoung-ssi!'' Wooyoung mengangkat wajahnya dari tas. Ia terdiam melihat gadis yang sekarang sedang berdiri di hadapannya. Gadis yang pernah salah paham padanya. Gadis yang tak lain adalah Park Hyomin. ''Ano, soal yang waktu itu. Mianhae,'' ucap Hyomin sedikit gugup. Ia juga terus memandang ke bawah.
         Wooyoung menatap lekat Hyomin. Setelahnya ia tersenyum. ''Gwaenchana, aku sudah memaafkanmu,'' ucapnya lembut.
         Hyomin mengangkat wajahnya dan melihat wajah imut Wooyoung yang sedang tersenyum membuatnya terpaku dan ternganga. *Tampannya.* batinnya. Sedetik kemudian ia sadar dari keterpakuannya, lalu dengan segera ia menggeleng-gelengkan kepadanya, guma mengenyahkan fikirannya yang beranggapan bahwa Wooyoung tampan.
         ''Hemmm, Wooyoung-ssi!'' panggil Hyomin di tengah kecanggungannya.
         ''Ne?''
         ''Minggu......''

         ''Wooyoungie,'' panggil seseorang menginterupsi perkataan Hyomin. Wooyoung menengok, lalu ia melihat seorang Nichkhun sedang berjalan ke arahnya. ''Kajja,'' ajaknya.
         Wooyoung mengangguk. ''Ne hyung, sebentar!'' Lalu ia menatap Hyomin. ''Maaf, tadi apa yang ingin kau katakan, Hyomin-ssi?''
       Hyomin yang mendapat pertanyaan, menggeleng.
        ''Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu ne... Jaa!''
        Hyomin menatap kepergian Wooyoung. Setelahnya ia menghela nafas berat. ''Pabo-ya, hanya mengajak satu pria saja kau tak bisa!'' gumamnya kesal.


@Kantin.


       ''Tadi, pacarmu Wooyoungie?'' Wooyoung yang sedang minum tersedak ketika hyungnya itu menanyakan hal yang bagi Wooyoung begitu tidak masuk akal. Wooyoung pun menggeleng.
       Nichkhun menghela nafas. Lalu ia memakan makanannya. ''Sayang sekali ne---- padahal dia itu cantik dan cocok sekali denganmu,'' komentar Nichkhun.
       ''Nugu?'' tanya Taecyeon yang baru datang, ia juga langsung meminum air minum Nichkhun yang belum tersentuh oleh sang empunya.
        Nichkhun yang melihatnya, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
        ''Ne, sebernarnya siapa yang sedang kalian bicarakan?'' ulang Taecyeon.
        ''Park Hyomin-ssi.'' Kali ini, giliran Taecyeon yang tersedak.
        ''Yak, hati-hati Taecyeonnie,'' ucap Nichkhun sambil menepuk-nepuk pelan pundak Taecyeon.
         ''Apa yang kalian bicarakan Park Hyomin sahabatnya Eunjung-ah?'' Wooyoung mengangguk. ''Apa dia mulai mendekatimu?'' tanyanya kemudian.
          ''Entahlah, akhir-akhir ini baik dia maupun Park Jiyeon memang aneh terhadapku!'' komentar Wooyoung.
        ''Ternyata benar, mereka memang sedang menggunakanmu sebagai mainam mereka!''
        Wooyoung dan Nichkhun yang mendengarnya, mengerutkan kening mereka.
        ''Maksudmu, hyung?'' tanya Wooyoung. Dan Taecyeonpun mengatakan yang sebenarnya.



Flashback


         ''Taecyeon-ssi?''
        Taecyeon yang baru saja menshooting bola, menghentika permainannya dan menengok ke arah seseorang yang memanggil. Setelah ia mengetahui orang itu, ia pun langsung meninggalkan lapangan permainan dan menghampiri orang itu.
        ''Ada apa, Eunjung-ah?'' tanyanya ketika sudah berada di samping Eunjung.
        Eunjung yang melihat raut kelelahan di wajah Taecyeon, memberikan air mineralnya. Taecyeon menerimanya dan langsung menenggak isinya hingga setengah. ''Gomaweo.'' Eunjung mengangguk. ''Sebenarnya ada apa, Eunjung-ah?'' tanyanya lagi.
         ''Ne? Ah, ada yang ingin ku bicarakan denganmu!''
          ''Jinjah, apa itu?''
          ''Ini tentang sahabatmu yang bermarga Jang itu,'' ucap Eunjung sambil menundukkan kepalanya. Taecyeon nampak berfikir sebelum akhirnya sebuah lampu berpijar terang di kepalanya.
          ''Ah, apa mungkin maksudmu, Jang Wooyoung?'' Eunjung mengangguk. ''Ada apa dengannya?''
          Eunjung menarik nafas sebentar, sebelum. ''Tolong beritahu dia untuk berhati-hati pada gadis bernama Park Jiyeon dan Park Hyomin.''
          ''Memangnya kenapa?''
         ''Karna ia dijadikan barang taruhan oleh dua gadis itu. Aku mendengarnya tadi malam saat aku melewati pintu kamar gadis-gadis itu,'' jelas Eunjung.
          Taecyeon mengangguk. ''Araseo, terimaksih karna kau sudah mau peduli dengan sahabatku,'' ucap Taecyeon lembut.



Flashback End.




          Wooyoung dan Nichkhun menganggukkan kepala mereka setelah mendengar semua penuturan Taecyeon. ''Araseo, jadi mereka menjadikanku sebagai bagian dalam permainannya? Baiklah, kita lihat siapa yang mempermainkan siapa!'' komentar Wooyoung sambil tersenyum misterius.
        Taecyeon dan Nichkhun menatap tak percaya diri Wooyoung.



.
.


  Next Day.......


          ''Ouh, itu dia!''
          Wooyoung yang sedang berjalan santai di koridor, tidak sengaja melihat seorang Park Jiyeon yang berada di salah satu pintu kelas sedang tersenyum padanya.
         Perlahan namun pasti, Wooyoung sudah dekat dengan sang pintu, melihat pergerakan Jiyeon. Tepat saja Jiyeon menjatuhkan tubuhnya ke hadapan Wooyoung, Wooyoung tanpa dosa memundurkan tubuhnya satu langkah ke belakang yang mengakibatkan seorang Park Jiyeon jatuh dengan tidak elitnya.
           Jiyeon membulatkan matanya, ia dipermalukan di depan kelasnya oleh seorang Jang Wooyoung. Ia tak habis fikir, bahwa Wooyoung akan menghindarinya bukan menolongnya!
          ''Ouh kau tidak apa-apa Jiyeon-ssi?'' tanya Wooyoung tanpa dosa. Ia juga mengulurkan tangannya untuk membantu Jiyeon berdiri.
          Jiyeon yang melihatnya, langsung berseri-seri, setelah sebelumnya dibuat kesal oleh orang yang sama. Jiyeon akan menggapai tangan yang terulur itu, namun naas, bertepatan dengan itu, Wooyoung malah menarik lagi tangannya dan melambaikan tangannya ke arah lain.
          ''Mianhae, tapi sepertinya kau tidak apa-apa!'' ucapnya cuek dan berlalu begitu saja. Sekali lagi, Jiyeon di permainkan oleh seorang Jang Wooyoung!
          Hyomin yang kebetulan melintas, hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat kejadian yang memalukan pada Jiyeon.
          Jiyeon yang melihatnya langsung bangkit berdiri dan mendengus. Setelahnya ia berdiri dan pergi meninggalkan Hyomin yang masih tertawa.

.
.
.
.


         ''Arrrrgh........,'' teriak Jiyeon frustasi, ia mengingat kembali kejadian dua hari yang lalu saat ia dipermalukan oleh seorang Jang Wooyoung di depan kelasnya. ''Arrrrggghh,'' teriaknya lagi.
        '''Waeyo, Jiyie-ya?'' tanya Hyomin yang baru keluar dari dalam kamar mandi. ''Ah apa kau masih kepikiran tentang dua hari yang lalu?'' Hyomin langsung mendapatkan deathglare dari Jiyeon. ''Sudahlah Jiyie-ya, kita hentikan saja permainan konyol ini! Aku lelah......''
         Jiyeon menatap Hyomin tak percaya. ''Mwo? Kau bilang hentikan eonni? Setelah aku di permalukan? Aku tidak mau!'' ucap Jiyeon sengit.
        ''Bukan hanya kau yang dipermalukan Jiyie-ya! Tapi aku juga!'' ucap Hyomin tak kalah sengit.



Flashback.


         ''Wooyoung-ssi.'' Wooyoung yang sedang pemanasan pun berhenti dan menengok.
        ''Ne Hyomin-ssi, waeyo?'' tanyanya dengan wajah polos.
        ''Pergilah denganku akhir pekan ini!'' ajak Hyomin.
        Wooyoung membulatkan matanya. Ia tak menyangka jika gadis yang ada di hadapannya saat ini begitu frontal terhadapnya. Ia tau jika Hyomin sedang berusaha merayunya, tapi tetap saja, ia tak menyangka kalau Hyomin akan seberani ini.
        ''Aku......''  Belum sempat Wooyoung menjawab, tubuh Hyomin sudah terduduk di hadapannya.
        ''Ouh Hyomin-ssi, mianhae,'' ucap pria itu. Hyomin menatap pria yang baru saja menabraknya cukup keras hingga ia terjatuh. Tak ada pergerakan dari Wooyoung maupun pria itu, padahal lutut Hyomin berdarah karnanya dan sikunya pun terluka.
        Hyomin dengan kesal, bangkit dan meninggalkan tempat itu, namun sebelum ia pergi. '' Lupakanlah permintaan yang kuucapkan tadi!'' ucap Hyomin dingin.
        Pria yang menabrak Hyominpun pergi karna tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Hyomin. Sedangkan Wooyoung, ia terdiam mengkhawatirkan jalan Hyomin yang pincang sambil menutupi sikunya yang terluka dengan tangan yang satunya lagi.



Flashback End.


       ''Jadi dia tidak menolongmu, eonn?'' Hyomin mengangguk. ''Tapi tetap saja aku tidak mau menghentikan permainan ini!''
        ''Yak Jiyie-ya.......'' Hyomin meninggikan suaranya karna ia tak percaya dengan respon yang diberikan Jiyeon. ''Baiklah, aku kalah Jiyie-ya, kau jauh lebih cantik dari pada aku. Jadi mari kita hentikan semua ini!'' ucap Hyomin akhirnya melembut.
        ''Shireo!''
        ''Araseo, jika kau ingin, lakukanlah sendiri, aku tidak mau!''
        ''Yak eonni bagaimana bisa seperti itu! Yak... Yak.....'' Namun yang diprotes sudah terlelap. ''Aigo,...... Eonni!!''


.
.
.
.



       Derap langkah kaki terdengar ketika Wooyoung baru saja menutup pintu kelasnya. Ia menengok ke arah koridor yang sudah kosong. Akan tetapi, Ia melihat siluet seorang gadis yang sedang berjalan ke arahnya.
       ''Ouh rupanya kau, Hyomin-ssi?'' Hyomin menghentikan jalannya dan menengok ke arah Wooyoung sebentar, sebelum melanjutkan jalannya kembali.
        Wooyoung mengerutkan keningnya. ''Cih,'' decih Wooyoung. ''Ada apa denganmu, Hyomin-ssi? Bukankah kemarin-kemarin kau yang mencoba mendekati?''
        Hyomin menghentikan jalannya lagi dan kali ini ia berbalik, lalu ia memandang sinis diri Wooyoung. ''Dengar, Wooyoung-ssi!'' ucapnya penuh dengan penekanan. ''Maaf sebelumnya karna sudah menjadikanmu sebagai bagian dari permainanku. Dan permainan itu sudah berakhir sekarang. Jadi aku sudah tidak menginginkanmu lagi!'' jelas Hyomin dingin.
         Wooyoung menatap Hyomin sebelum akhirnya ia tertawa. Hyomin mengerutkan keningnya. ''Waeyo?'' Namun bukannya menjawab, Wooyoung malah maju dan menghimpit Hyomin dengan dua tangannya di depan tembok di samping pintu kelasnya.
         ''Aku tau, tadinya kukira kau akan bertindak lebih jauh.'' Hyomin membulatkan matanya ketika ia mendengar penuturan Wooyoung. ''Tapi ternyata hanya sampai sini!'' cibirnya.
        ''Jadi.........''
        ''Ne,'' potong Wooyoung. ''Tapi sepertinya sekarang, aku malah semakin tertarik padamu!'' lanjutnya masih dengan posisi yang sama.
       ''Jangan mempermainkanku, Wooyoung-ssi,'' cibir Hyomin sambil terkekeh. ''Aku tidak aka.........'' Namun perkataannya menguap begitu saja ketika, -Cup-
        Wooyoung mencium bibir Hyomin. Hyomin membulatkan matanya. Ia akan marah, namun di saat itu Wooyoung menghentikan kegiatannya dan menatap Hyomin yang masih terkejut.
        Selanjutnya Wooyoung mendekatkan mulutnya ke telinga Hyomin. ''Itu first kiss ku, dan sepertinya kau juga!'' bisiknya.
        Mendengar hal itu wajah Hyomin memerah seketika. Ia masih terpaku di samping pintu kelas Wooyoung, padahal orang yang menyebabkannya terpaku sudah tidak terlihat di koridor, hingga.

        Drrrt Drrrrrt...... Sebuah panggilan masuk menyadarkan Hyomin dari keterkejutannya.
       ''Hyomin-ah, neo eodiga?''
       ''Ah ne, aku masih di sekolah!'' jawab  Hyomin sedikit tergugup.
       ''Cepat pulang!''
       ''Araseo, Jungie-ya!'' ucap Hyomin yang sudah bisa mengendalikan dirinya dari keterkejutannya. Setelah mematikan telphone, ia langsung berlari meninggalkan tempat itu menyusuri koridor yang sudah sepenuhnya sepi.

.
.
.

       Hyomin langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasurnya yang empuk, tak menghiraukan kehadiran Jiyeon di sana. ''Ada apa?'' tanya Jiyeon bingung.
       ''Ini semua gara-gara kau!''
       ''Memangnya apa yang........''
       ''Ne ini memang gara-gara permainan konyolmu itu!''
       ''Wae? Bukankah kita sudah menghentikannya?''
       ''Sudahlah, aku lelah!''
        Setelah mengatakan itu, Hyomin langsung membalikkan badannya, memunggungi Jiyeon. Dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, lalu ia terlelap.
       Jiyeon mendengus. ''Kenapa sekarang kau jadi lebih mudah tertidur seperti Eunjung eonni!'' ucapnya setengah memekik.
       Jiyeon yang kesal, turun dari ranjang dan duduk di depan meja riasnya, lalu memulai perawatan malamnya.


.
.
.
.

       Sudah seminggu sejak insiden tak terduga itu, Wooyoung terus memperhatikan Hyomin baik ketika gadis itu menjadi murung, atau ketika gadis itu menghindar darinya. Dan kadang-kadang rasa bersalah muncul di hatinya.
       Saat itu ia berfikir, ia dan Hyomin harus bicara berdua. Ya seperti saat ini, Ia membulatkan tekad untuk mengajak Hyomin bicara. Ia menghampiri Hyomin yang sedang sibuk dengan lokernya. Dan tanpa disadari sang gadis, tiba-tiba saja tangannya sudah dicengkram oleh Wooyoung.
       ''Dengar Hyomin-ssi.'' Tiba-tiba Wooyoung menghentikan langkahnya dan melepaskan cengkraman itu. Hyomin mengelus pergelangan tangannya sebelum menatap Wooyoung yang sedang menatapnya lekat.
       ''Wae?'' tanya Hyomin marah.
       ''Kita harus bicara, tiga hari lagi aku tunggu kau di Hottest Kafe jam dua!'' ucap Wooyoung tak bercela.
        Hyomin mengerjapkan matanya beberapa kali, sebelum ia terkekeh. ''Cih, aku tidak mau!''
        ''Aku akan menunggumu, karna di sana aku ingin mengatakan akhir permainan ini!'' ucapnya melembut, setelahnya ia berjalan menjauhi Hyomin yang masih terdiam.


.
.

       Hyomin ingin mengenyahkan ajakan Wooyoung itu, namun tak berhasil karna hari ini ia malah sibuk mencari gaun yang menurutnya cocok.
       Ia merasa kesal pada semua bajunya karna tidak ada yang cocok. Dan ia juga marah pada sikapnya yang seperti gadis-gadis remaja yang baru pertama kali diajak kencan.
       Akhirnya Hyomin hanya memakai jeans putih tulangnya dengan atasan tank top putih dibalut blazer hitam.
       Qri membulatkan matanya. ''Apa yang kau kenakan Hyominnie?!'' teriaknya. Hyomin menutup telinganya agar tidak mendengar teriakan eonninya itu. ''Apa kau akan berkencan dengan pakaian seperti itu?''
       Hyomin memutar bola matanya malas. ''Aku hanya bertemu seorang teman, Qri eonni. Bukan berkencan!'' ucapnya.
       ''Tetap saja! Seharusnya kau tetap terlihat anggun!''
       ''Sudahlah eonni, aku sudah terlambat!''
       Setelah mengatakan itu, Hyomin berlalu dari kamarnya menuju ke tempat tujuan.


Hottest kafe,


      Tak butuh waktu lama untuk Hyomin datang ke sana. Tapi butuh waktu yang lama baginya untuk menunggu seorang Jang Wooyoung. Bahkan hampir dua gelas kopi ia habiskan, tapi tetap saja orang yang ditunggunya belum datang juga.
       Hyomin menghela nafas kesal, sebelum ia memutuskan untuk beranjak dari sana. Dengan kesal ia melangkahkan kakinya dari tempat itu. ''Heoh, dia mempermainkanku!'' gerutunya tak percaya. ''Memangnya dia kira dia itu siapa!'' teriaknya sambil menendang kerikil yang ada di jalan. ''Awas saja dia, jika aku bertemu dengannya, aku akan........''
         ''Hyomin-ssi.'' Gerutuannya terhenti saat ada yang memanggilnya. Hyomin menengok ke belakang dan mendapati seorang Wooyoung yang terengah-engah sedang berjalan ke arahnya.
        Dan ia menegang saat kedua bahunya dipegang oleh Wooyoung. Keinginannya untuk balas dendam ke pria itu pun hilang dari fikirannya.
        ''Hyomin-ssi,'' ucapnya lagi dengan nafas yang sedikit terengah-engah. ''Maaf sudah membuatmu menunggu lama. Ada sesuatu yang tak terduga terjadi.'' Hyomin mengangguk kikuk. Ia terlalu syok, melihat kehadiran Wooyoung, bahkan ia tak memberontak saat tangannya ditarik untuk masuk ke Hottest kafe lagi.
        Sekarang mereka saling berhadapan dengan secangkir kopi di hadapan mereka masing-masing. Wooyoung masih terdiam, begitupun Hyomin yang menunggu Wooyoung untuk bicara.
        Wooyoung meminum kopinya sebelum menatap Hyomin lekat. ''Hyomin-ssi.'' Hyomin menahan nafasnya saat namanya keluar dari mulut Wooyoung. Hatinya pun berdebar menantikan lanjutan perkataan Wooyoung, ia tidak tau kenapa itu bisa terjadi. ''Aku menyukaimu,'' ucapnya langsung.
        Hyomin membulatkan matanya. Ia tak percaya Wooyoung akan mengatakan hal itu, tapi yang membuatnya lebih tak percaya adalah, Wooyoung mengatakannya dengan santai dan tak ada sedikitpun kebohongan terdengar. Padahal di dalam hatinya, ia berharap pria itu jauh lebih romantis. Menyadari hal itu, Hyomin langsung menggelengkan kepalanya guna menghilangkan sebuah harapan yang sempat muncul di hatinya itu.
       ''Ada apa? Aku tak menyuruhmu menerimaku, jadi.....''
       ''Aku juga menyukaimu!'' potong Hyomin.
       Wooyoung terkesiap dan didetik itu juga, Hyomin terkesiap. ''Ah itu, aku.... Aku......''
       Tapi terlambat, Wooyoung sudah tersenyum. ''Aku senang mendengarnya!'' Wajah Hyomin memerah sempurna. ''Dan aku lebih senang lagi karna ku tau, ini bukan bagian dari permainanmu.''
       Hyomin terduduk tegak. ''Bagaimana kau.....''
       ''Itu terlihat jelas di wajahmu,'' potong Wooyoung.
       ''Jadi.....?''
       ''Jadi apa?'' tanya Wooyoung, sebelum ia menambahkan. ''Ah ne, kita berpacaran sekarang!''





The End....^^


29 Juli 2016.



Yeay.... Akhirnya ff ini ending dengan tidak elitnya.... Sebenarnya ini ff jadul author yang sempat terbengkalai.... dan kalau gak salah ini ff tahun 2014-2015'an gitu, awal dibuatnya....

Kritik dan saran, diterima dengan tangan terbuka!^^

Boy In Luv - Upi Hwang (OneShoot)

Boy In Luv - Upi Hwang (OneShoot)




Cast           : Lee Junho (2PM), Park Jimin (BTS)

Other Cast : Park Jiyeon (T-Ara), Shannon William.

Genre        : Brothership, Romance.

Author       : Upi Hwang.

Lenght       : Oneshoot.





Warning!




        Typo bertebaran, Alur kecepetan, Gaje, abal dan ide pasaran. Ooc. Dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan. Maklum author abal-abal.
      Sesungguhnya para tokoh bukan milik author, melainkan milik agensi dan orang tua masing-masing, author hanya memakai mereka untuk keperluan cerita.












Happy Reading!
(Don't like, don't read).






         Seoul, Korea Selatan 2016.



       ''Ne hyung,'' ucap suara yang terdengar masih mengantuk.
       ''Aku masih di rumah. Dan, bandara? Untuk apa aku ke sana, ini masih terlalu pagi hyung...,'' ucapnya sambil melangkah ke dapur untuk minum.
        ''Mwo? Kau sudah kembali dari Jepang? Dan sekarang kau di bandara? Araseo, araseo. Jankanman-yo.....''
       Setelah memutuskan sambungan telphone, pria itu segera bergegas ke dalam kamar, mengambil kunci mobil dan pergi ke bandara untuk menjemput hyungnya.

       Tak butuh waktu lama baginya mengendarai mobil untuk sampai di bandara internasional Incheon. Apalagi jalanan yang senggang di minggu pagi.
       Ia mencari-cari hyungnya itu. Dia akan menelpon, akan tetapi. ''Jimin-ah,'' panggil seseorang padanya. Ia menengok dan melihat hyungnya yang sedang melambaikan tangan kepadanya lengkap dengan senyuman dan kopernya.
       Jimin berjalan ke arahnya, lalu tanpa aba-aba, ia langsung memeluk tubuh pria yang lebih tinggi darinya itu. Pria itu terkekeh. ''Junho hyung, kenapa kau baru kembali?'' ucapnya sambil merengek.
      ''Cih, jangan bertingkah seolah kau itu kekasihku! Dan bukankah kau senang aku lama di luar negeri,'' ucap Junho sambil mendecih.
      Jimin hanya nyengir dan menampilkan sederet giginya yang putih. Junho yang melihatnya kesal, lalu berpura-pura akan memukul Jimin. Jimin juga refleks mengangkat tangannya untuk melindungi kepalanya yang akan dipukul oleh Junho.
      ''Sudahlah hyung, kajja.'' Jimin berjalan lebih dulu dengan membawa koper Junho. Di belakangnya, Junho mengekor dengan tas di punggungnya.
       Jimin mengendarai mobilnya dengan sangat santai. Sedangkan Junho sedang memperhatikan jalanan dengan kaca mobilnya yang terbuka dan tangannya menyangga dagunya. Mereka mendengarkan lagu Hopeless Love, suara gadis yang full power terdengar mengisi seluruh mobil. Suaranya sangat indah. ''Bukankah penyanyi ini juga bernama Park Jimin?'' tanya Junho. Jimin yang sedang terfokus pada jalanan di depannya menengok.
       ''Ah ne, dia juara pertama di salah satu ajang pencarian bakat, hyung.'' Lalu ia melihat Junho tersenyum geli. ''Wae?''
       ''Dulu kukira itu adalah kau! Ternyata dia seorang gadis.'' Jimin mendengus saat Junho mengatakan alasannya tersenyum geli.
      ''Makanya hyung, jangan terlalu lama di Jepang dan berkutat dengan dokumen-dokumen memuakkanmu!''
       ''Eits, jangan seperti itu. Dokumen itu adalah sumber uangku,'' jawab Junho santai tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. ''Lima tahun ku di Jepang, Seoul sudah banyak berubah!'' gumamnya. Jimin tak menanggapi. ''Ah apakah apartement ku juga berubah?'' tanya Junho seakan baru menyadari tempat tinggalnya yang sudah lima tahun ia tinggalkan.
        Jimin meneguk ludahnya dan wajahnya berubah pucat. Junho menyadari perubahan itu dan ia mendengus. ''Sudah kuduga, pasti sekarang tempat itu seperti tempat pembuangan sampah!''
        Jimin langsung menengok ke arah Junho yang masih memandang jalanan di luarnya. ''Yak, tidak seperti itu juga hyung! Mungkin hanya sedikit berantakan saja,'' bela Jimin tak mau disalahkan karna tidak menjaga apartement hyungnya dengan baik.
        Junho tidak menanggapi, karna sekarang tatapannya terpaku pada seorang gadis yang sedang berdiri di pinggir jalan sambil terus menggerutu. Rambutnya yang coklat kepirangan tergerai dan tertiup angin. Junho terkekeh melihat gadis itu yang mulutnya terus mencibir.
       Jimin mengerutkan keningnya saat hyungnya itu terkekeh sendiri, dan mengangkat sebelah alisnya. ''Ada apa hyung?'' tanyanya penasaran. Junho menggeleng, lau ia meminta turun saat itu juga. ''Tapi kenapa hyung?'' tanya Jimin penasaran saat Junho sudah berada di luar mobilnya.
       ''Sudah, kau pulang saja sana! Aku harus bertemu dengan seseorang terlebih dahulu!'' Jimin mengangguk dan langsung pergi meninggalkan Junho yang sudah menyeberangi jalan. Ia sempat melihat Junho yang memberhentikan taxi dan masuk ke dalamnya. Tapi ia tak peduli, toh hyungnya itu sudah menyuruh dirinya pulang lebih dulu.

        Ternyata Junho sengaja menaiki Taxi dan berhenti di hadapan sang gadis yang tadi sedang dilihatnya. Ia melongokkan kepalanya dari jendela yang terbuka itu. ''Butuh tumpangan nona?'' tanyanya lembut lengkap dengan senyuman yang menggoda.
       Gadis itu menatap tajam dan penuh selidik pada Junho. ''A..ku hanya menawarkan!'' ucap Junho sedikit gugup saat mendapat tatapan tajam dari seorang gadis.
        Gadis itu tampak berfikir sebelum akhirnya ia mengangguk dan masuk ke dalam taxi yang sedang ditumpangi oleh Junho. ''Kau mau ke mana nona?'' tanya Junho saat gadis itu menaruh ponselnya di dalam tas.
       Sang gadis menatap lekat Junho sebelum beralih ke supir taxi. ''Ahjussi, Kyunghee University.'' Sang supir mengangguk, begitu juga Junho. ''Terima kasih mau berbagi tumpangan denganku!'' ucap gadis itu pada Junho. Junho tersentak. Lalu ia mengangguk.
      ''Aku Lee Junho, dan kau nona. Siapa namamu?'' Kemudian Junho kembali mendapat tatapan tajam dari gadis itu. ''Ah, bukankah tidak baik jika tidak saling mengenalkan diri?'' ucap Junho mencoba mengelak.
       ''Sudahlah, aku Park Jiyeon.'' Jiyeon, ia menjabat tangan Junho yang terulur.
       ''Nama yang indah, seperti orangnya.''
       ''Berhenti menggombal!'' ucap Jiyeon cepat. Ia sudah terbiasa mendengar pria-pria menggodanya seperti itu. ''Ahjussi, bisa lebih cepat?'' ucapnya pada sang supir.
       Supir itu mengangguk. ''Ne nona, jankanman-yo!''
       Junho tak henti-hentinya menatap wajah cantik bak malaikat di sampingnya itu. Dan sang malaikat itu juga seperti tidak merasa diperhatikan.
       ''Terima kasih,'' ucap Jiyeon menyadarkan Junho dari lamunannya ketika ia sudah berada di depan gerbang universitas dan sudah berada di luar mobil.
      ''Ah ne...,'' ucap Junho. ''Kalau begitu, aku pergi dulu ne. Jiyeon-ssi.'' Jiyeon mengangguk dan membelakangi Junho dan mulai berjalan. Namun ia dihentikan oleh Junho.
       ''Ada apa lagi, Junho-ssi?''
       ''Bolehkah aku minta nomormu?''
       Jiyeon mengerutkan keningnya. ''Tapi untuk.....''
       ''Ayolah, kumohon.''
       Setelah berfikir, akhirnya ia mengangguk dan mulai mengetik nomornya di ponsel Junho. Kemudian ia memberikan ponsel itu kembali. ''Jaa ne,'' ucap Junho sambil melambaikan tangannya dan kembali masuk ke dalam taxinya lalu pergi dari sana.

.
.
.

       Junho tak perlu mengetuk pintu untuk masuk ke apartement -nya sendiri yang sudah ia tinggalkan selama lima tahun. Meskipun kode kunci itu sudah diubah, tapi ia masih memiliki kunci.
      Dan ketika ia sudah ada di dalam, ia melihat Jimin yang sedang asik menatap layar televisi di depannya saat ini. Junho menggelengkan kepalanya sebelum duduk di samping Jimin.
       Jimin menengok sekilas, sebelum ia menatap kembali layar televisinya. ''Kau tidak kuliah?'' Jimin menggeleng. ''Kenapa?''
      ''Hari ini aku libur hyung.'' Junho mengangguk. Ia juga memakan pop corn yang terbengkalai di atas meja.
      ''Kukira kau membolos!''
      ''Tentu saja tidak hyung!'' bela Jimin, cepat.
      ''Bagus, aku tidak mau menghamburkan uangku, hanya untuk adik yang tidak mau masuk kuliah!'' ucap Junho tajam sebelum beranjak dari sana dan pergi ke kamarnya.
       Jimin mendengus tetapi ia tidak marah. Karna apa yang dikatakan Junho itu memang benar.  Hyungnya itu tidak perlu mengeluarkan uang kuliah, jika ia kuliah dengan asal-asalan, benarkan?





.
.
.
.


        ''Kunci mobil!'' pinta Junho saat Jimin baru saja turun dari mobil.
       ''Tapi nanti aku pulang bagaimana, hyung?'' tanya Jimin.
       ''Kau bisa pulang naik taxi, bis, bahkan kereta. Jadi cepat berikan kunci!''
      Jimin mendengus, tapi ia tetap memberikan kunci itu. ''Sayang sekali, padahal aku akan mengenalkanmu pada guru yang paling cantik di sini. Tapi karna kau meminta kembali kunci mobil.....'' Belum sempat Jimin menyelesaikan perkataannya Junho sudah mengambil paksa kunci mobilnya.
      ''Aku tidak peduli! Karna hari ini aku ada janji kencan. Kau urus saja gadis-gadismu sendiri.....'' Setelah mengatakan hal itu Junho langsung pergi dari sana.
      Jimin mengerutkan keningnya. ''Apa dia yakin? Padahal aku yakin Jiyeon sonsaengnim pasti adalah tipenya,'' gumamnya. ''Dia cantik, sexi pula. Ah hyung itu aneh sekali! Tapi tak apalah, jika nanti dia bertemu Jiyeon sonsaengnim, pasti aku akan kalah saing dengannya,'' lanjutnya sambil berlalu dari sana, masuk ke dalam universitasnya.



       Di tempat Junho, ternyata ia pergi ke Queens kafe. Ia duduk di sudut ruangan dekat jendela. Ia melambaikan tangannya ketika orang yang ditunggunya sudah datang. ''Jiyeonnie,'' panggilnya.
       Jiyeon, dia menengok dan tersenyum. Lalu ia berjalan ke tempat Junho duduk dan duduk di hadapan pria itu.
       ''Maaf sudah membuatmu menunggu lama.'' Junho menggeleng sambil tersenyum. ''Kau tau, kau itu pria napeun.'' Junho mengerutkan keningnya. ''Dan aku setuju jalan denganmu hanya karna beberapa gombalanmu! Padahal kita baru saja bertemu. Aku sungguh tak percaya itu,'' jujur Jiyeon.
       Bukannya marah Junho malah terkekeh mendengar pengakuan yang jujur itu. ''Aku tersanjung nona,'' ucapnya masih dengan senyuman menggodanya.
       ''Ngomong-ngomong, kau seperti salah satu muridku yang sedikit errrr.'' Jiyeon tak meneruskan kata-katanya karna ia sudah bergidik ketika memikirkannya.
       ''Kenapa? Apa dia sepertiku? Napeun namja?'' Jiyeon mengangguk sambil meminum kopi yang sudah dipesankan untuknya. ''Siapa?''
       ''Park Jimin, dia sering menggodaku. Dan yang paling sering dia ucapkan adalah, sayang guru, kau jauh lebih tua dariku, tapi aku tidak masalah jika kau menginginkanku!'' ucap Jiyeon sambil berbisik. Junho terkekeh.
       ''Lalu, kenapa kau tidak menerima bocah tengik itu? Padahal kau sudah kenal dengannya lebih lama. Tapi kau malah menerima ajakan kencanku yang baru kau kenal dua hari lalu?''
       Jiyeon menatap lekat Junho. ''Aku tidak mungkin menerimanya, aku tidak menyukainya. Dan untukmu, entahlah.. Aku seperti tersihir olehmu!'' ucap Jiyeon jujur.
       Junho tersenyum. ''Aku tersanjung. Sudah, kajja kita pergi,'' ajak Junho sambil bangkit dan mengulurkan tangannya, lalu Jiyeon menyambut uluran tangan itu dengan senang hati.
      Mereka pun berjalan menjauhi Queens kafe.


.


      Di tempat Jimin, ia kesal karna hari ini tak bisa pulang dengan mobil hyungnya itu. Ditambah lagi bis yang menuju ke apartement hyungnya tidak ada. Dan taxi belum ditemuinya sepanjang jalan. Alhasil iapun berjalan kaki sambil sesekali menendang apapun yang ada di depan kakinya, hingga ia dengan kesal menendang kaleng minuman tanpa melihat ke depannya.

     Pletak

       Ia mendengar kaleng itu mengenai sesuatu. Dan ia mengangkat wajahnya, di saat itu ia baru menyadari bahwa kaleng yang tadi ditendangnya mengenai kepala seseorang. Kepala seorang gadis dengan rambut blonde berponi depan, wajahnya seperti orang-orang luar.
      Itulah yang ia sadari sebelum ia menyadari bahwa tatapan gadis itu menatap tajam padanya. Ia juga meneguk ludahnya paksa saat melihat gadis cantik itu berjalan ke arahnya.
      Dan tanpa basa-basi lagi, gadis itu langsung memukul kepala Jimin dengan buku tebal yang sedang dibawanya. ''Dasar napeun!'' teriaknya tepat di depan wajah Jimin.


      Dan kejadian itu baru saja dilihat oleh Jiyeon-Junho yang baru saja keluar dari Queens kafe. Mereka terpaku. Sebelum akhirnya Junho tertawa. Kemudian mereka berjalan ke arah Jimin dan gadis yang baru saja memukul kepala pria itu. ''Shannon-ah, ada apa? Apa pria ini merayumu?'' tanya Jiyeon khawatir saat tau siapa gadis yang baru saja memukul muridnya itu.
      Shannon menggeleng. ''Dia menendang kaleng. Dan kaleng itu jatuh mengenani kepalaku eonni....,'' ucap Shannon manja. Jiyeon yang mendengarnya langsung memeluk Jiyeon.
       Jiyeon tak menyadari bahwa ia sedang ditatap penuh tanya oleh kedua namja yang ada di dekatnya itu. ''Kau mengenalnya sonsaengnim?'' tanya Jimin ragu. Namun belum sempat Jiyeon menjawab, Junho langsung berjalan dan berhenti di samping Jimin. Lalu pria itu merangkul pundak Jimin.
       ''Pasti tadi itu sangat sakit ne?'' tanya Junho dengan nada mengejek. Kali ini Junho mendapat tatapan bertanya dari Jiyeon.
        ''Kau mengenalnya Junho-ya?'' Junho menatap Jiyeon dan tersenyum. Ia mengangguk.
        ''Ne, dia adikku!'' Jiyeon membulatkan matanya.
       ''Pantas saja, kalian hampir mirip baik wajah dan sifatnya!'' gumam Jiyeon. ''Dan Jimin-ssi, ne aku mengenal gadis ini!'' ucap Jiyeon pada Jimin sambil mengusap lembut poni Shannon. ''Dia sepupuku yang baru datang dari Inggris,'' lanjutnya. Jimin mengangguk mengerti.
       ''Lalu, kenapa kalian bisa bersama hyung? Sonsaengnim?'' tanya Jimin sambil menatap Jiyeon dan Junho bergantian.
        ''Kau akan terkejut, kami sepasang kekasih! Dan kami baru saja pulang dari kencan kami yang pertama.''
       Semua orang yang ada di sana terkejut, termasuk Jiyeon. ''Itu tidak seperti itu, Jimin-ssi,'' sangkal Jiyeon sedikit kikuk. ''Tapi kami....''
       ''Semalam kau sudah menerimaku, apa kau lupa chagiya?'' tanya Junho sambil menggoda. Jiyeon, yang digoda sudah memerah sempurna.
       Lalu mereka mendengar Jimin mendengus. ''Kau curang hyung! Kau sudah mengambil guru paling cantik yang kusukai!'' gerutu Jimin.
       Junho menyeringai lalu ia kembali berdiri di samping Jiyeon dan memeluk pinggang Jiyeon. ''Yak.....,''
       ''Sudahlah chagi, kajja. Biarkan sepupumu dan adikku itu menikmati kencan mereka.'' Jiyeon yang mendengarnya, mengangguk.
        ''Yak kami tidak berkencan!'' teriak Shannon dan Jimin bersamaan. Namun yang mereka teriaki sudah berjalan menjauh. Dengan tangan Junho yang masih memeluk pinggang Jiyeon.

       Mereka terus menatap kepergian Jiyeon dan Junho. Setelahnya Jimin menatap lekat Shannon. Shannon yang merasa diperhatikan, menengok. ''Kenapa kau?'' tanya Shannon jutek.
       Jimin menggeleng dan tersenyum aneh. ''Ternyata kau cantik juga, Shannon-ah.'' Shannon yang mendengarnya langsung menatap Jimin tak percaya, apalagi saat ia menyadari tatapan Jimin yang tidak hanya menatap wajahnya.
      Lalu dengan sigap ia memukul kembali kepala Jimin dengan buku tadi, kali ini jauh lebih keras. Jimin langsung meringis sambil memegangi kepalanya yang baru saja kenal pukul.
      ''Yak!'' Jimin akan marah, namun Shannon sudah meninggalkan Jimin yang masih memegangi kepalanya.
     ''Dasar napeun namja-ya!'' teriak Shannon tanpa menengok ke belakang.
      Jimin yang mendengarnya, langsung berlari mengejar gadis blonde itu yang sudah berada jauh di depannya.






The End.



23 Juli 2016




Its so finally. Judul sama cerita gak nyambung, bingung mau ngasih judul apa. And then, ini request'an bestie author... #SI.. Gak bisa bikin yang panjang, ide mentok.. Hope you like it!
Powered by Blogger.

Translate

Labels

15& 2AM 2NE1 2PM 5Dolls 9Muses After School Ahn Eunjin Ahn Seo Hyun Ahn Sohee auliasyalwa B.A.P B1A4 Bae Sun Mi Bae Suzy Baek A Yeon Baek Azizah Baek Yebin Baek Yerin Bambam Baro Bestie Big Bang Boyfriend Brothership BTOB BTS Byun Baekhyun Cha Hyun Rin Chapter Cho Kyuhyun Choi Hanny Choi Seung Hyun Choi Seungri Choi Siwon Choi Sungmin Choi Youngjae Cholict Click-B CNBLUE Comedy D.O Davichi DAY6 DIA Do Kyung Soo Donghyun Drama Eunhyuk EXO EXO-K EXO-M F.T. Island Fafiter Challenge Family FANFICTION Fantasy Friendship GFriend Girls' Generation Go Ahra GOT7 Ham Eunjung Han Hye Sun Han Hyo Joo Han Hyori Han Nayeon Hurt Hwang Chansung Hwang Minhyun Im Yoona Jang Geun Suk Jang Wooyoung Jenny Jeon Boram Jia Jinyoung Joo Ji Hoon Jr Jung Ho Seok Jung Il Woo Jung Jinwoon Jung Min Joo Jung Yerin Jung Yong Hwa Juniel Kaeun Kang Hye Ri Kang Hyo Rya Kang Min Hyuk Kang Yo Ra Kang Young Hyun Khunpimook Bhuwakul Kim Bum Kim Dani Kim Hanny Kim Hanny/Choi Hanny Kim Ji Ah Kim Jong In Kim Jong Woon Kim Min Jung Kim Nam Gil Kim Nam Joon Kim Nana Kim Naya Kim Seok Jin Kim So Eun Kim Soo Hyun Kim Sookyu Kim Wonpil Kim Woo Bin Kim Yugyeom Kris Wu Krystal Jung Lee Areum Lee Donghae Lee Hae Na Lee Hyo Jin Lee Hyo Ra Lee Hyukjae Lee Jae In Lee Jang Woo Lee Ji Eun Lee Jong Suk Lee Junho Lee Keina Lee Keumjo Lee Min Ho Lee Qri Lee Seung Gi Lee Sungmin Lee Sunny Lee Yo Won Married-life MellyTaenggo MeloDrama Min Yoon Gi Mistery Myoui Mina Na Haeryung Nam Gyuri Nichkhun Horvejkul Noh Lee Young NU'EST OC Oh Ha Ni Oh Jong Hyuk Ok Taecyeon OneShoot Park Chan Yeol Park Hyomin Park Jae Hyung Park Ji Eun Park Jihyo Park Jimin Park Jiyeon Park Keyla Park Se-young Park Shin Hye Park Soyeon Park Sungjin Park Yeon Jung Rap Monster Risma Song Romance Romantic Roy Kim Ryewook Sandara Park Sandeul School-life SeoHyun Sequel Shannon William Song Minyoung Sowon SPEED Sung Hyun Jae Super Junior T-Ara The Ark Tiffany Hwang Tiramisuu Latté TOP Trilogi Twice TwoShoot U-Kiss Upi Hwang V Wonder Girls Yaoi Yesung Yoo Youngjae Yook Sung Jae Yoon Dowoon Yoon Eun Hye Young K Yuna Kim