Showing posts with label Shannon William. Show all posts

Boy In Luv - Upi Hwang (OneShoot)

Boy In Luv - Upi Hwang (OneShoot)




Cast           : Lee Junho (2PM), Park Jimin (BTS)

Other Cast : Park Jiyeon (T-Ara), Shannon William.

Genre        : Brothership, Romance.

Author       : Upi Hwang.

Lenght       : Oneshoot.





Warning!




        Typo bertebaran, Alur kecepetan, Gaje, abal dan ide pasaran. Ooc. Dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan. Maklum author abal-abal.
      Sesungguhnya para tokoh bukan milik author, melainkan milik agensi dan orang tua masing-masing, author hanya memakai mereka untuk keperluan cerita.












Happy Reading!
(Don't like, don't read).






         Seoul, Korea Selatan 2016.



       ''Ne hyung,'' ucap suara yang terdengar masih mengantuk.
       ''Aku masih di rumah. Dan, bandara? Untuk apa aku ke sana, ini masih terlalu pagi hyung...,'' ucapnya sambil melangkah ke dapur untuk minum.
        ''Mwo? Kau sudah kembali dari Jepang? Dan sekarang kau di bandara? Araseo, araseo. Jankanman-yo.....''
       Setelah memutuskan sambungan telphone, pria itu segera bergegas ke dalam kamar, mengambil kunci mobil dan pergi ke bandara untuk menjemput hyungnya.

       Tak butuh waktu lama baginya mengendarai mobil untuk sampai di bandara internasional Incheon. Apalagi jalanan yang senggang di minggu pagi.
       Ia mencari-cari hyungnya itu. Dia akan menelpon, akan tetapi. ''Jimin-ah,'' panggil seseorang padanya. Ia menengok dan melihat hyungnya yang sedang melambaikan tangan kepadanya lengkap dengan senyuman dan kopernya.
       Jimin berjalan ke arahnya, lalu tanpa aba-aba, ia langsung memeluk tubuh pria yang lebih tinggi darinya itu. Pria itu terkekeh. ''Junho hyung, kenapa kau baru kembali?'' ucapnya sambil merengek.
      ''Cih, jangan bertingkah seolah kau itu kekasihku! Dan bukankah kau senang aku lama di luar negeri,'' ucap Junho sambil mendecih.
      Jimin hanya nyengir dan menampilkan sederet giginya yang putih. Junho yang melihatnya kesal, lalu berpura-pura akan memukul Jimin. Jimin juga refleks mengangkat tangannya untuk melindungi kepalanya yang akan dipukul oleh Junho.
      ''Sudahlah hyung, kajja.'' Jimin berjalan lebih dulu dengan membawa koper Junho. Di belakangnya, Junho mengekor dengan tas di punggungnya.
       Jimin mengendarai mobilnya dengan sangat santai. Sedangkan Junho sedang memperhatikan jalanan dengan kaca mobilnya yang terbuka dan tangannya menyangga dagunya. Mereka mendengarkan lagu Hopeless Love, suara gadis yang full power terdengar mengisi seluruh mobil. Suaranya sangat indah. ''Bukankah penyanyi ini juga bernama Park Jimin?'' tanya Junho. Jimin yang sedang terfokus pada jalanan di depannya menengok.
       ''Ah ne, dia juara pertama di salah satu ajang pencarian bakat, hyung.'' Lalu ia melihat Junho tersenyum geli. ''Wae?''
       ''Dulu kukira itu adalah kau! Ternyata dia seorang gadis.'' Jimin mendengus saat Junho mengatakan alasannya tersenyum geli.
      ''Makanya hyung, jangan terlalu lama di Jepang dan berkutat dengan dokumen-dokumen memuakkanmu!''
       ''Eits, jangan seperti itu. Dokumen itu adalah sumber uangku,'' jawab Junho santai tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. ''Lima tahun ku di Jepang, Seoul sudah banyak berubah!'' gumamnya. Jimin tak menanggapi. ''Ah apakah apartement ku juga berubah?'' tanya Junho seakan baru menyadari tempat tinggalnya yang sudah lima tahun ia tinggalkan.
        Jimin meneguk ludahnya dan wajahnya berubah pucat. Junho menyadari perubahan itu dan ia mendengus. ''Sudah kuduga, pasti sekarang tempat itu seperti tempat pembuangan sampah!''
        Jimin langsung menengok ke arah Junho yang masih memandang jalanan di luarnya. ''Yak, tidak seperti itu juga hyung! Mungkin hanya sedikit berantakan saja,'' bela Jimin tak mau disalahkan karna tidak menjaga apartement hyungnya dengan baik.
        Junho tidak menanggapi, karna sekarang tatapannya terpaku pada seorang gadis yang sedang berdiri di pinggir jalan sambil terus menggerutu. Rambutnya yang coklat kepirangan tergerai dan tertiup angin. Junho terkekeh melihat gadis itu yang mulutnya terus mencibir.
       Jimin mengerutkan keningnya saat hyungnya itu terkekeh sendiri, dan mengangkat sebelah alisnya. ''Ada apa hyung?'' tanyanya penasaran. Junho menggeleng, lau ia meminta turun saat itu juga. ''Tapi kenapa hyung?'' tanya Jimin penasaran saat Junho sudah berada di luar mobilnya.
       ''Sudah, kau pulang saja sana! Aku harus bertemu dengan seseorang terlebih dahulu!'' Jimin mengangguk dan langsung pergi meninggalkan Junho yang sudah menyeberangi jalan. Ia sempat melihat Junho yang memberhentikan taxi dan masuk ke dalamnya. Tapi ia tak peduli, toh hyungnya itu sudah menyuruh dirinya pulang lebih dulu.

        Ternyata Junho sengaja menaiki Taxi dan berhenti di hadapan sang gadis yang tadi sedang dilihatnya. Ia melongokkan kepalanya dari jendela yang terbuka itu. ''Butuh tumpangan nona?'' tanyanya lembut lengkap dengan senyuman yang menggoda.
       Gadis itu menatap tajam dan penuh selidik pada Junho. ''A..ku hanya menawarkan!'' ucap Junho sedikit gugup saat mendapat tatapan tajam dari seorang gadis.
        Gadis itu tampak berfikir sebelum akhirnya ia mengangguk dan masuk ke dalam taxi yang sedang ditumpangi oleh Junho. ''Kau mau ke mana nona?'' tanya Junho saat gadis itu menaruh ponselnya di dalam tas.
       Sang gadis menatap lekat Junho sebelum beralih ke supir taxi. ''Ahjussi, Kyunghee University.'' Sang supir mengangguk, begitu juga Junho. ''Terima kasih mau berbagi tumpangan denganku!'' ucap gadis itu pada Junho. Junho tersentak. Lalu ia mengangguk.
      ''Aku Lee Junho, dan kau nona. Siapa namamu?'' Kemudian Junho kembali mendapat tatapan tajam dari gadis itu. ''Ah, bukankah tidak baik jika tidak saling mengenalkan diri?'' ucap Junho mencoba mengelak.
       ''Sudahlah, aku Park Jiyeon.'' Jiyeon, ia menjabat tangan Junho yang terulur.
       ''Nama yang indah, seperti orangnya.''
       ''Berhenti menggombal!'' ucap Jiyeon cepat. Ia sudah terbiasa mendengar pria-pria menggodanya seperti itu. ''Ahjussi, bisa lebih cepat?'' ucapnya pada sang supir.
       Supir itu mengangguk. ''Ne nona, jankanman-yo!''
       Junho tak henti-hentinya menatap wajah cantik bak malaikat di sampingnya itu. Dan sang malaikat itu juga seperti tidak merasa diperhatikan.
       ''Terima kasih,'' ucap Jiyeon menyadarkan Junho dari lamunannya ketika ia sudah berada di depan gerbang universitas dan sudah berada di luar mobil.
      ''Ah ne...,'' ucap Junho. ''Kalau begitu, aku pergi dulu ne. Jiyeon-ssi.'' Jiyeon mengangguk dan membelakangi Junho dan mulai berjalan. Namun ia dihentikan oleh Junho.
       ''Ada apa lagi, Junho-ssi?''
       ''Bolehkah aku minta nomormu?''
       Jiyeon mengerutkan keningnya. ''Tapi untuk.....''
       ''Ayolah, kumohon.''
       Setelah berfikir, akhirnya ia mengangguk dan mulai mengetik nomornya di ponsel Junho. Kemudian ia memberikan ponsel itu kembali. ''Jaa ne,'' ucap Junho sambil melambaikan tangannya dan kembali masuk ke dalam taxinya lalu pergi dari sana.

.
.
.

       Junho tak perlu mengetuk pintu untuk masuk ke apartement -nya sendiri yang sudah ia tinggalkan selama lima tahun. Meskipun kode kunci itu sudah diubah, tapi ia masih memiliki kunci.
      Dan ketika ia sudah ada di dalam, ia melihat Jimin yang sedang asik menatap layar televisi di depannya saat ini. Junho menggelengkan kepalanya sebelum duduk di samping Jimin.
       Jimin menengok sekilas, sebelum ia menatap kembali layar televisinya. ''Kau tidak kuliah?'' Jimin menggeleng. ''Kenapa?''
      ''Hari ini aku libur hyung.'' Junho mengangguk. Ia juga memakan pop corn yang terbengkalai di atas meja.
      ''Kukira kau membolos!''
      ''Tentu saja tidak hyung!'' bela Jimin, cepat.
      ''Bagus, aku tidak mau menghamburkan uangku, hanya untuk adik yang tidak mau masuk kuliah!'' ucap Junho tajam sebelum beranjak dari sana dan pergi ke kamarnya.
       Jimin mendengus tetapi ia tidak marah. Karna apa yang dikatakan Junho itu memang benar.  Hyungnya itu tidak perlu mengeluarkan uang kuliah, jika ia kuliah dengan asal-asalan, benarkan?





.
.
.
.


        ''Kunci mobil!'' pinta Junho saat Jimin baru saja turun dari mobil.
       ''Tapi nanti aku pulang bagaimana, hyung?'' tanya Jimin.
       ''Kau bisa pulang naik taxi, bis, bahkan kereta. Jadi cepat berikan kunci!''
      Jimin mendengus, tapi ia tetap memberikan kunci itu. ''Sayang sekali, padahal aku akan mengenalkanmu pada guru yang paling cantik di sini. Tapi karna kau meminta kembali kunci mobil.....'' Belum sempat Jimin menyelesaikan perkataannya Junho sudah mengambil paksa kunci mobilnya.
      ''Aku tidak peduli! Karna hari ini aku ada janji kencan. Kau urus saja gadis-gadismu sendiri.....'' Setelah mengatakan hal itu Junho langsung pergi dari sana.
      Jimin mengerutkan keningnya. ''Apa dia yakin? Padahal aku yakin Jiyeon sonsaengnim pasti adalah tipenya,'' gumamnya. ''Dia cantik, sexi pula. Ah hyung itu aneh sekali! Tapi tak apalah, jika nanti dia bertemu Jiyeon sonsaengnim, pasti aku akan kalah saing dengannya,'' lanjutnya sambil berlalu dari sana, masuk ke dalam universitasnya.



       Di tempat Junho, ternyata ia pergi ke Queens kafe. Ia duduk di sudut ruangan dekat jendela. Ia melambaikan tangannya ketika orang yang ditunggunya sudah datang. ''Jiyeonnie,'' panggilnya.
       Jiyeon, dia menengok dan tersenyum. Lalu ia berjalan ke tempat Junho duduk dan duduk di hadapan pria itu.
       ''Maaf sudah membuatmu menunggu lama.'' Junho menggeleng sambil tersenyum. ''Kau tau, kau itu pria napeun.'' Junho mengerutkan keningnya. ''Dan aku setuju jalan denganmu hanya karna beberapa gombalanmu! Padahal kita baru saja bertemu. Aku sungguh tak percaya itu,'' jujur Jiyeon.
       Bukannya marah Junho malah terkekeh mendengar pengakuan yang jujur itu. ''Aku tersanjung nona,'' ucapnya masih dengan senyuman menggodanya.
       ''Ngomong-ngomong, kau seperti salah satu muridku yang sedikit errrr.'' Jiyeon tak meneruskan kata-katanya karna ia sudah bergidik ketika memikirkannya.
       ''Kenapa? Apa dia sepertiku? Napeun namja?'' Jiyeon mengangguk sambil meminum kopi yang sudah dipesankan untuknya. ''Siapa?''
       ''Park Jimin, dia sering menggodaku. Dan yang paling sering dia ucapkan adalah, sayang guru, kau jauh lebih tua dariku, tapi aku tidak masalah jika kau menginginkanku!'' ucap Jiyeon sambil berbisik. Junho terkekeh.
       ''Lalu, kenapa kau tidak menerima bocah tengik itu? Padahal kau sudah kenal dengannya lebih lama. Tapi kau malah menerima ajakan kencanku yang baru kau kenal dua hari lalu?''
       Jiyeon menatap lekat Junho. ''Aku tidak mungkin menerimanya, aku tidak menyukainya. Dan untukmu, entahlah.. Aku seperti tersihir olehmu!'' ucap Jiyeon jujur.
       Junho tersenyum. ''Aku tersanjung. Sudah, kajja kita pergi,'' ajak Junho sambil bangkit dan mengulurkan tangannya, lalu Jiyeon menyambut uluran tangan itu dengan senang hati.
      Mereka pun berjalan menjauhi Queens kafe.


.


      Di tempat Jimin, ia kesal karna hari ini tak bisa pulang dengan mobil hyungnya itu. Ditambah lagi bis yang menuju ke apartement hyungnya tidak ada. Dan taxi belum ditemuinya sepanjang jalan. Alhasil iapun berjalan kaki sambil sesekali menendang apapun yang ada di depan kakinya, hingga ia dengan kesal menendang kaleng minuman tanpa melihat ke depannya.

     Pletak

       Ia mendengar kaleng itu mengenai sesuatu. Dan ia mengangkat wajahnya, di saat itu ia baru menyadari bahwa kaleng yang tadi ditendangnya mengenai kepala seseorang. Kepala seorang gadis dengan rambut blonde berponi depan, wajahnya seperti orang-orang luar.
      Itulah yang ia sadari sebelum ia menyadari bahwa tatapan gadis itu menatap tajam padanya. Ia juga meneguk ludahnya paksa saat melihat gadis cantik itu berjalan ke arahnya.
      Dan tanpa basa-basi lagi, gadis itu langsung memukul kepala Jimin dengan buku tebal yang sedang dibawanya. ''Dasar napeun!'' teriaknya tepat di depan wajah Jimin.


      Dan kejadian itu baru saja dilihat oleh Jiyeon-Junho yang baru saja keluar dari Queens kafe. Mereka terpaku. Sebelum akhirnya Junho tertawa. Kemudian mereka berjalan ke arah Jimin dan gadis yang baru saja memukul kepala pria itu. ''Shannon-ah, ada apa? Apa pria ini merayumu?'' tanya Jiyeon khawatir saat tau siapa gadis yang baru saja memukul muridnya itu.
      Shannon menggeleng. ''Dia menendang kaleng. Dan kaleng itu jatuh mengenani kepalaku eonni....,'' ucap Shannon manja. Jiyeon yang mendengarnya langsung memeluk Jiyeon.
       Jiyeon tak menyadari bahwa ia sedang ditatap penuh tanya oleh kedua namja yang ada di dekatnya itu. ''Kau mengenalnya sonsaengnim?'' tanya Jimin ragu. Namun belum sempat Jiyeon menjawab, Junho langsung berjalan dan berhenti di samping Jimin. Lalu pria itu merangkul pundak Jimin.
       ''Pasti tadi itu sangat sakit ne?'' tanya Junho dengan nada mengejek. Kali ini Junho mendapat tatapan bertanya dari Jiyeon.
        ''Kau mengenalnya Junho-ya?'' Junho menatap Jiyeon dan tersenyum. Ia mengangguk.
        ''Ne, dia adikku!'' Jiyeon membulatkan matanya.
       ''Pantas saja, kalian hampir mirip baik wajah dan sifatnya!'' gumam Jiyeon. ''Dan Jimin-ssi, ne aku mengenal gadis ini!'' ucap Jiyeon pada Jimin sambil mengusap lembut poni Shannon. ''Dia sepupuku yang baru datang dari Inggris,'' lanjutnya. Jimin mengangguk mengerti.
       ''Lalu, kenapa kalian bisa bersama hyung? Sonsaengnim?'' tanya Jimin sambil menatap Jiyeon dan Junho bergantian.
        ''Kau akan terkejut, kami sepasang kekasih! Dan kami baru saja pulang dari kencan kami yang pertama.''
       Semua orang yang ada di sana terkejut, termasuk Jiyeon. ''Itu tidak seperti itu, Jimin-ssi,'' sangkal Jiyeon sedikit kikuk. ''Tapi kami....''
       ''Semalam kau sudah menerimaku, apa kau lupa chagiya?'' tanya Junho sambil menggoda. Jiyeon, yang digoda sudah memerah sempurna.
       Lalu mereka mendengar Jimin mendengus. ''Kau curang hyung! Kau sudah mengambil guru paling cantik yang kusukai!'' gerutu Jimin.
       Junho menyeringai lalu ia kembali berdiri di samping Jiyeon dan memeluk pinggang Jiyeon. ''Yak.....,''
       ''Sudahlah chagi, kajja. Biarkan sepupumu dan adikku itu menikmati kencan mereka.'' Jiyeon yang mendengarnya, mengangguk.
        ''Yak kami tidak berkencan!'' teriak Shannon dan Jimin bersamaan. Namun yang mereka teriaki sudah berjalan menjauh. Dengan tangan Junho yang masih memeluk pinggang Jiyeon.

       Mereka terus menatap kepergian Jiyeon dan Junho. Setelahnya Jimin menatap lekat Shannon. Shannon yang merasa diperhatikan, menengok. ''Kenapa kau?'' tanya Shannon jutek.
       Jimin menggeleng dan tersenyum aneh. ''Ternyata kau cantik juga, Shannon-ah.'' Shannon yang mendengarnya langsung menatap Jimin tak percaya, apalagi saat ia menyadari tatapan Jimin yang tidak hanya menatap wajahnya.
      Lalu dengan sigap ia memukul kembali kepala Jimin dengan buku tadi, kali ini jauh lebih keras. Jimin langsung meringis sambil memegangi kepalanya yang baru saja kenal pukul.
      ''Yak!'' Jimin akan marah, namun Shannon sudah meninggalkan Jimin yang masih memegangi kepalanya.
     ''Dasar napeun namja-ya!'' teriak Shannon tanpa menengok ke belakang.
      Jimin yang mendengarnya, langsung berlari mengejar gadis blonde itu yang sudah berada jauh di depannya.






The End.



23 Juli 2016




Its so finally. Judul sama cerita gak nyambung, bingung mau ngasih judul apa. And then, ini request'an bestie author... #SI.. Gak bisa bikin yang panjang, ide mentok.. Hope you like it!

FIRST SIGHT - UPI HWANG [ONESHOOT]



First Sight- Upi Hwang [OneShoot]



Cast           : Shannon William. Bambam
Other Cast : Got7, Kim Dani, Ahn Eunjin
Cameo       : Ok Taecyeon, Nichkhun Horvejkul.
Cover by    : Catastrophe Art
Genre         : School-life, Friendship.
Author       : Upi Hwang.
Lenght       : Oneshoot





    

Can you love me?
Can you love me?
Yeoja maeum da sobakhaeseo
Saranghae hanmadie
Modeungeol dajuge doeneungeol
So will you love me?



   Shannon, wanita cantik itu tidak sengaja menabrak pria ketika ia sedang mendengarkan musik di trotoar jalan,  itu terlihat dari earphone putih yang ia pakai.
   Pria yang sedang bercanda ria dengan teman-temannya sekaligus pria yang ditabrak itu berhenti, dan menatap Shannon. Begitupun sebaliknya.
    Shannon membungkukkan badan dan kepalanya. ''I'm sorry sir,'' ucapnya dengan bahasa inggris yang fasih.
    ''Yeah, i'm all right.'' jawab pria itu sambil tersenyum, bertepatan dengan itu, Shannon mengangkat kepalanya dan melihat senyuman itu. Nae joaheyo,,,,,  batinnya.
     Setelah mengucapkan hal itu, pria tadi pun melanjutkan jalannya karna teman-temannya sudah jauh berada didepan. Dan Shannon juga melanjutkan jalannya kembali.




                 ^^^^~~~~~~~~~^^^^



    Shannon, sekarang ia sedang berdiri didepan gerbang sekolah barunya, Seoul International Art School. Ia menutup matanya, membiarkan angin menerpa wajah dan rambutnya. Rambutnya yang tergerai berkibar tertiup angin.
   Ternyata dibelakangnya ada seseorang yang kebetulan sedang berjalan kearahnya, ia menghirup aroma alami yang tercium dari rambut Shannon. Harumnya,,,, batin orang itu. Lalu ia melihat wajah Shannon, Ah neomu yeppo,,, batinnya kemudian.
     Kemudian saat orang itu sedang asik melihat Shannon yang masih memejamkan matanya, ada yang memanggilnya.
    ''Bambam hyung,'' orang itu yang ternyata bernama Bambam mengalihkan pandangannya dari Shannon, kearah orang yang memanggilnya yang ternyata adalah Yugyeom, salah satu sahabatnya.
    ''Ne, Yugyeom-ah, wae?'' teriak Bambam sambil berjalan menuju Yugyeom meninggalkan Shannon.
    ''Kenapa kau disitu saja? Kha, Mark hyung dan JaeBeom hyung sudah menunggu.'' ucap Yugyeom. Bambam mengangguk.
    ''Araseo, kha.''
   Saat Bambam pergi, Shannon membuka matanya lalu ia melihat punggung Bambam yang semakin menjauh. Ia mengerutkan keningnya, setelahnya ia mulai memasuki halaman sekolah.



                 ^^^^~~~~~~~~~^^^^



     ''Jadi kau murid baru itu?'' tanya yeoja tinggi berambut hitam panjang, yang diketahui bernama Eunjin, Shannon mengangguk.
    ''Ah kau mengerti bahasa korea?'' tanya gadis yang berkacamata, Dani.
    ''Ne, nae eomma hanguk saram. Jadi aku mengerti dan bisa.'' ucap Shannon dengan bahasa korea yang fasih.
     ''Woaaah,'' komentar Eunjin dan Dani bersamaan. Shannon, ia hanya tersenyum melihat ekspresi dua teman barunya itu.
    Memang wajah Shannon itu terlihat western, dikarnakan ayahnya seorang British. Jadi tak heran dia lebih terlihat ke western dibanding korea. ''Ne, aku butuh bantuan kalian. Mannaseo bangapseumnida.''
    ''Ne, selamat bergabung di sekolah ini.'' ucap Dani.
    ''Ne semoga kau suka kamar nya.'' lanjut Eunjin. Shannon mengangguk sambil tersenyum yang menampilkan gigi kelincinya.




                 ^^^^~~~~~~~~~^^^^



   ''Bammie-ya tolong ambilkan bukuku di Eunjin-ssi,'' ucap Youngjae.
   ''Kenapa aku hyung?'' tanya Bambam.
   ''Ouh hayolah Bammie-ya, bukankah hari ini kau ada kelas dengannya.'' Bambam nampak berfikir.
   ''Aku tidak tau Eunjin mana yang kau maksud hyung,''
   ''Ouh Bammie-ya, jangan bercanda. Dia satu kelas denganmu saat pelajaran Song sonsaengnim. Ahn Eunjin.'' jelas Youngjae. Bambam, ia mengangguk.
    ''Araseo.'' ucapnya sebelum meninggalkan kamar mereka.




                 ^^^^~~~~~~~~~^^^^



    Sekarang Bambam sedang berada di depan pintu kamar Eunjin. Ia menarik nafasnya sambil menutup matanya, karna ini pertama kalinya ia ke asrama wanita. Saat ia sedang melakukan itu, seorang wanita berambut pirang panjang dengan poni depannya berhenti ketika melihatnya.
    Wanita yang tidak lain adalah Shannon, terpaku melihat pemandangan saat ini. Dan tepat saat ia sedang menatap Bambam lekat, Bambam membuka matanya. Bambam pun terpaku. Ia terlihat menahan nafasnya agar detak jantungnya yang tak beraturan tidak terdengar oleh Shannon. Wajah Shannon memerah sempurna.
     ''Bambam sunbaenim, apa yang kau lakukan disini?'' tanya Dani yang baru datang, suara yang sukses menyadarkan Shannon dan Bambam dari kebisuan mereka.
    ''Ah anu,,,'' Bambam terlihat mengumpat karna kegugupannya. Sedangkan Shannon hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. ''Aku disuruh Youngjae hyung untuk mengambil bukunya di Eunjin-ssi.'' lanjut Bambam setelah berhasil mengatasi kegugupannya.
    ''Tapi Eunjin eonni baru saja mengembalikannya kepada Youngjae oppa.'' jawab Dani.
    ''Mwo? Jinjah?'' Dani mengangguk. Bambam terlihat sangat kesal. ''Araseo, gomaweoyo.'' ucap Bambam. Dani mengangguk. Bambam meninggalkan kamar Shannon dan Dani sambil terus menggerutu tidak jelas.
    Shannon masih terpaku didepan pintu, menatap kepergian Bambam. ''Wae eonni?'' tanya Dani, Shannon seketika sadar,
    ''Ne?''
    ''Ani, kha kita masuk.'' ucap Dani. Shannon mengangguk, dan mengekor Dani yang sudah lebih dulu berjalan kedalam kamar.




                 ^^^^~~~~~~~~~^^^^



     ''Dia itu orang yang baik eonn.'' ucap Dani tiba-tiba, dan seketika membuat suasana yang tenang menjadi sedikit gaduh, apalagi Eunjin yang langsung berlari menuju ke kasur Dani,
    ''Nugu?'' tanya Eunjin.
    ''Bambam sunbaenim, dia itu orang yang baik.'' ulang Dani. Dua ekspresi berbeda dilihat Dani. Shannon menampilkan ekspresi penasaran, sedangkan Eunjin menampilkan ekspresi malasnya.
     ''Kenapa kau jadi membicarakan dia...'' komentar Eunjin.
      ''Sepertinya ada yang menyukainya.'' goda Dani, wajah Shannon memerah, sedangkan Eunjin yang tidak tau apa-apa hanya mengerutkan keningnya. ''Dia itu orang Thailand, dan ia itu trainee JYP Ent, ini adalah tahun keduanya disini.'' jelas Dani.
    ''Ouh hayolah Dani berhenti membicarakan napeun namja itu!''
     ''Napeun?'' ulang Shannon. Eunjin mengangguk. ''Ne dia itu menyebalkan, dan itu sangat buruk.'' Shannon mengangguk. Lalu Eunjin mengerutkan keningnya. Ia menatap Shannon, dan terlihatlah semburat merah muda di kedua pipi Shannon, ''Omona, jangan bilang kalau kau itu.......??'' ucap Eunjin tak percaya.
     ''Ne, Shannon eonni menyukainya!'' ucap Dani.
    ''Yak, siapa yang suka siapa heoh?'' elak Shannon. Namun terlambat, karna Eunjin dan Dani sudah mulai menggodanya.




                 ^^^^~~~~~~~~~^^^^



    ''Youngjae-ya,''
    ''Ne, Jinyoung hyung, wae?'' tanya Youngjae yang masih tidak mengalihkan pandangannya. Sekarang mereka sedang berada di aula asrama. Disana juga terdapat seorang Mark Tuan dan Jackson Wang yang sedang bermain catur, dan masih banyak siswa lainnya.
    ''Dimana Bambam?'' tanya Jinyoung.
    ''Dia sedang di kamar, bersama Yugyeom,'' jawab Youngjae tanpa melihat Jinyoung. Jinyoung yang sudah selesai urusannya dengan Youngjae langsung pergi meninggalkan Youngjae di aula. Ia pergi menuju kamar Bambam dan Yugyeom.
    Ia langsung masuk, ketika menyadari pintu tidak dikunci. Lalu terlihat seorang Bambam yang sedang tidur-tiduran dikasurnya. Yugyeom? Iyah tidak terlihat didalam kamar itu, entah dimana dia sekarang ini. ''Bammie-ya,'' rajuk Jinyoung. Bambam sedikit terkejut, terbukti dengan menengoknya ia kearah panggilan. Namun setelahnya ia kembali keposisi awalnya.
    ''Ne hyung, waeyo?''
    ''Niatnya aku ingin mengajakmu ke Queens kafe malam ini,'' Jinyoung melihat jamnya. ''Tapi sepertinya kau sedang tidak mau keluar.'' lanjutnya. Bambam yang mendengar jawaban Jinyoung, langsung terduduk tegas.
      ''Ani hyung, kha kita pergi.'' ucapnya. Jinyoung, dia hanya tersenyum melihat tingkah Bambam. Mereka pergi ke Queens kafe.



    @Queens kafe.


    ''Eunjin eonni, apa tidak apa-apa, jika kita pergi malam-malam seperti ini?'' tanya orang itu.
    ''Ne Shannon-ah, tidak apa-apa, besok hari sabtu jadi kita bisa datang lebih siang untuk memulai pelajaran.'' jelas Eunjin. Lalu Eunjin menarik lengan Shannon agar cepat masuk ke dalam kafe, karna keadaan diluar cukup dingin di akhir tahun ini.
     ''Ah dinginnya,'' komentar Eunjin saat mereka sedang menunggu pesanan mereka datang.

  Satu detik kemudian,

    ''Ouh Eunjin-ah, kau juga disini?'' tanya seseorang, Eunjin dan Shannon menengok kearah orang yang baru datang itu. ''Bolehkah kami gabung dengan kalian?'' tanyanya kemudian. Eunjin mengangguk ketika ia tau siapa dua orang yang baru datang itu. Ia tersenyum jahil ketika mengetahui siapa orang yang bersama dengan pria yang baru saja bertanya padanya. Sedangkan Shannon, ia menundukkan kepalanya ketika ia merasa diperhatikan.
    ''Ne Jinyoung oppa, duduk saja.'' ucapnya lembut.
    ''Oppa?'' ulang orang yang bersama Jinyoung itu, orang yang tak lain adalah Bambam. Eunjin menatap Bambam, lalu ia menampilkan tatapan deathglare kepada Bambam.
     ''Ne, waeyo?''
     ''Sudahlah, Bammie-ya, aku yang menyuruhnya memanggil seperti itu.'' Bambam mengangguk, lalu ia menengok kesampingnya, kebetulan ia duduk disamping Shannon. Ia melihat Shannon yang sedang mengatur pernafasannya. Jinyoung juga memperhatikan Shannon. ''Ah kau murid baru?'' tanyanya hati-hati. Shannon mengangkat kepalanya, lalu mengangguk.
     ''Ne, Shannon William imnida.'' ucapnya,
     ''Ah, Park Jinyoung imnida, dan ini, dia Bambam, dia sedikit pemalu.'' ucap Jinyoung sambil tersenyum jahil.
      ''Hyung.........'' rajuk Bambam. Namun Jinyoung hanya nyengir. Tak lama setelah percakapan, pesanan mereka datang, dua gelas coklat panas, dan dua gelas kopi americano.
    Mereka larut dalam percakapan santai, dan saat Bambam serta Shannon sibuk meminum minuman mereka, Eunjin mendekatkan bangkunya kebangku Jinyoung, kemudian ia membisikkan sesuatu. ''Oppa, bukankah mereka terlihat serasi?''
    Jinyoung melihat Bambam dan Shannon yang kebetulan sedang saling bertukar senyuman. Lalu ia mengangguk.
    ''Shannon, ia menyukai Bambam-ssi.'' jujur Eunjin. Jinyoung yang sedang minum, hampir saja tersedak kopinya ketika mendengar pengakuan itu.
     ''Mwo?''
     ''Hush,'' desis Eunjin, ia mengangguk. ''Bolehkah aku meminta sesuatu padamu oppa?''
      ''Apa?''
      ''Tolong cari tau apakah Bambam memiliki perasaan yang sama seperti sahabatku itu,'' Jinyoung nampak berfikir. ''Ayolah oppa, bukankah aku sudah kau anggap sebagai adikmu sendiri?'' desak Eunjin. Memang benar, Jinyoung selama ini sudah menganggap Eunjin sebagai adiknya sendiri, itu semua berawal dari seringnya Jinyoung membantu Eunjin jika Eunjin sedang kesulitan. Setelah cukup lama berfikir, Jinyoung akhirnya mengangguk. ''Gomaweo oppa.''
      ''Sudahlah, Kha, sudah malam, nanti kepala asrama marah jika kita pulang terlambat.'' ucap Jinyoung ketika selesai melihat jam ditangannya. Mereka mengangguk, lalu pergi meninggalkan kafe setelah sebelumnya membayar minuman mereka, kali ini Jinyoung yang membayar minumannya, termasuk minuman Shannon dan Eunjin.



                 ^^^^~~~~~~~~~^^^^



   Hari sabtu, mereka masuk ketika waktu sudah mulai siang, namun masih ada saja guru yang mengajar pagi, yaitu seperti Kang sonsaengnim, ia datang terlalu pagi untuk hari sabtu. Dan untung saja, hari ini Shannon tidak terlambat.
    Ia masuk kelas, lalu duduk di barisan ke-4 dari depan, ke-2 dari samping dekat pintu. Sepuluh menit sudah berlalu setelah dimulainya pelajaran Kang sonsaengnim, lalu pintu terbuka. Shannon masih terfokus dengan bukunya, ketika pintu itu terbuka.
    ''Yak, kenapa kau selalu terlambat dipelajaranku Bhuwakul-ssi?'' ucap Kang sonsaengnim pada pria yang baru saja datang.
     ''Jeoseonghamnida sonsaengnim,'' ucapnya menyesal.
    ''Baiklah, tapi jika kau telat lagi jangan harap untuk bisa masuk kekelasku,'' peringatan dari Kang sonsaengnim, ia hanya mengangguk. Lalu ia berjalan ke bangku kosong yang kebetulan berada di belakang Shannon, setelah Kang sonsaengnim menyuruhnya duduk.
    Ketika sampai disamping Shannon, ia melirik ah bahkan ia menengok dan memperhatikan Shannon setelahnya ia duduk dibangku paling belakang.
    ''Selalu saja terlambat!'' ucap seseorang yang berada disamping kiri pria itu, dia menengok.
    ''Ouh Yugyeom-ah, kenapa kau tidak membangunkanku?'' tanya orang itu sedikit kesal.
     ''Aku sudah melakukannya Bambam-ah, tapi kau saja yang tidak mau bangun,'' bela Yugyeom.
     ''Yah tapi seha.....''
     ''Berhentilah bicara di kelasku!'' ucap Kang sonsaengnim memotong pembicaraan antara Bambam dan Yugyeom. Ternyata suara itu tidak hanya didengar oleh Kang sonsaengnim, namun didengar juga oleh Shannon, alhasil ia pun menengok kebelakangnya. Lalu tampaklah seorang Bambam. Shannon tampak terkejut. Terbukti dari mulutnya yang berbentuk huruf O.
      ''Hi,'' sapa Bambam tanpa suara,
      ''Ekhem,'' batuk Yugyeom, suara kecil yang mampu membuyarkan keterkejutan Shannon, Shannon tersenyum, kemudian berbalik dan kembali mendengarkan penjelasan Kang sonsaengnim.

    Tak terasa pelajaran Kang sonsaengnim telah selesai, Shannon sedang membereskan buku-bukunya ketika Bambam berada disampingnya. Shannon mendongak untuk melihat Bambam yang berdiri disampingnya.
    ''Ternyata kau,'' ucap Shannon, lalu ia kembali membereskan buku-bukunya yang sempat tertunda.
    ''Apa kau mau ke kantin?'' tanya Bambam.
    ''Mollayo, Eunjin-ah dan Dani-ah belum mencariku.'' jawab Shannon sambil memasukkan buku terakhirnya.
     ''Kalau begitu, pergi bersama ku saja.'' ajak Bambam, Shannon menatap Bambam. Bambam tersenyum, lalu segera mungkin ia menarik tangan Shannon meninggalkan kelas itu. Selama perjalanan menuju kantin, Shannon sukses dibuat deg-deg'an oleh Bambam. Karna Bambam tak jua melepaskan genggamannya sedari mereka dikelas tadi.

     ''Kau mau pesan apa?'' tanya Bambam ketika mereka sudah duduk disalah satu bangku kantin.
    ''Aku tidak tau makanan apa yang enak disini,'' komentar Shannon.
     ''Baiklah kalau begitu kau tunggu disini.'' ucap Bambam, setelahnya ia berjalan meninggalkan Shannon dan memesan makanan untuk mereka berdua.

    Shannon memegang Dadanya yang terus saja berdetak tak karuan, ''Oh My God, aku sungguh menyukainya. Aku menyukainya sejak hari itu. Aku menyukainya pada pandangan pertama.'' gumam Shannon.
    ''Jinjahyo? Eonjena?, eodiseo?'' tanya seseorang yang baru saja duduk. Shannon terkejut, ia menengok kearah orang itu, ''Hi, i'm Mark Tuan, and you?'' ucap + tanyanya dengan bahasa inggris yang fasih.
    ''I'm Shannon William, senang berkenalan denganmu, sunbaenim?'' ucap Shannon sedikit ragu menyebut kata Sunbae.
    ''Aigo, kau kiyeon yeoja.'' komentar Mark sambil mengacak-acak rambut Shannon, karna ia terlalu gemas melihat wajah Shannon.
     ''Yak sunbae,''
     ''Oppa, panggil saja aku Mark oppa,'' ucap Mark ketika Shannon memanggilnya sunbae.
      ''Araseo, algaeseumnida.'' jawab Shannon. Tak lama Bambam datang dengan dua nampan.
     ''Woah, cinta memang hebat,'' komentar seseorang yang baru datang. Dia adalah Jackson Wang.
     ''Apa maksudmu hyung?'' tanya Bambam merengut.
     ''Ani, Mark hyung, kau dipanggil JaeBeom hyung,'' ucap Jackson, lalu ia berlalu dari sana.
      ''Araseo,'' ucapnya pada Jackson. ''Hei berjuanglah uri Bammie!'' teriak Mark yang sudah berjalan menjauh dari Bambam dan Shannon.
      ''Heoh, apa maksudnya itu.'' gerutu Bambam sedangkan Shannon hanya tersenyum.



                 ^^^^~~~~~~~~~^^^^




    25 Desember 2015

   Hari ini murid Seoul International Art School sedang libur, banyak yang pergi berjalan-jalan. Shannon yang  baru masuk kedalam kamar, tampak bingung karna terdapat bingkisan diatas kasurnya. Shannon membuka bungkusan itu, yang ternyata adalah sebuah coat merah hangat dengan hodie yang berbulu. Disana terdapat sepucuk surat.
   ''Eunjin eonni, waeyo?'' tanyanya ketika melihat pengirim hadiah itu yang ternyata adalah Eunjin.


    Happy Mary Christmast Shannon-ah^^
Pakailah coat ini, aku dan Dani menunggumu di taman yang berada didekat sungai Han, datanglah, palliwa!! :)

   Shannon mengerutkan keningnya, ia bingung kenapa tiba-tiba seperti ini. Tapi ia masih melakukan perintah Eunjin, ia mengenakan coat merah itu dan pergi ke taman yang berada didekat sungai Han.
   Percayalah, ada sebuah rencana yang sudah dipersiapkan oleh Eunjin dan Dani.



                 ^^^^~~~~~~~~~^^^^



   ''Bammie-ya, palliwa!'' suruh Jinyoung via telphone.
   ''Ne, hyung tunggu.'' balas Bambam, ia sedang memakai hodie hangatnya.
    ''Palliwa, disini dingin.''
    ''Araseo hyung, araseo.'' ucap Bambam sebelum menutup sambungan telphone.



                 ^^^^~~~~~~~~~^^^^


   Shannon sudah berada ditempat tujuan, namun ia mengerutkan keningnya karna ia tak menemukan siapapun disana. Akhirnya Shannonpun mengeluarkan ponselnya, dan mencari kontak Eunjin kemudian menghubunginya.
    ''Yoboseyo,'' ucap Shannon ketika panggilan itu diangkat oleh Eunjin.
    ''Kau dimana eonni? Aku sudah berada disini.''
    ''Jinjahyo? Ah kau tunggu sebentar ne,''
    ''Araseo, keundae palliwa eonni, disini dingin.'' ucap Shannon mengakhiri sambungan.

  Lima menit kemudian, tak ada tanda - tanda akan kehadiran Eunjin maupun Dani. Shannon menghela nafas frustasi, iapun terduduk lemas dibangku yang terdapat ditaman itu, ia menghela nafas berat.



                 ^^^^~~~~~~~~~^^^^


    Bambam, ia sudah sampai ditaman ini dari dua menit yang lalu, ia sedang mencari keberadaan hyungnya itu. Ia terus berjalan hingga akhirnya ia melihat seorang gadis berambut pirang panjang dengan coat berhodie warna merah. Bukankah itu??? Batin Bambam bertanya - tanya. Dan ia langsung menghubungi Jinyoung ketika ia menyadari sesuatu.
    ''Hyung,''
    ''Ouh ne Bammie-ya,''
    ''Apa kau yang merencanakan semuanya?'' tanya Bambam langsung.
     ''Hehehehe, sudah yah. Selamat berjuang!'' ucap Jinyoung mengakhiri percakapannya.
     ''Aish.......'' gerutu Bambam.

  Akhirnya, mau tidak mau, Bambam pun menghampiri Shannon, dan langsung duduk disamping gadis itu.
   Shannon menatap diri Bambam bingung.
   ''Kenapa kau disini?'' tanya Shannon polos.
   ''Seharusnya aku yang bertanya seperti itu.'' ucap Bambam.
    ''Aku menunggu seseorang,''
    ''Dia tidak akan datang.'' Shannon menatap Bambam, begitu pun dengan Bambam. Sekarang mereka saling berhadapan, kemudian Bambam memegang bahu Shannon dan menatap gadis itu lekat. ''Dengar Shannon-ah, mereka itu tidak akan datang. Karna ini semua direncanakan untuk kita.''
     ''Maksudmu?''
     ''Mereka tau bahwa nae joahaeyo ah ani, nae saranghae.'' jelas Bambam. Shannon terpaku seketika mendengar penjelasan Bambam. Bambam yang tak mendapat respon, melanjutkan perkataannya, ''Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Yaitu di depan pintu gerbang sekolah, awal kau masuk sekolah itu. Dan, maukah kau menjadi nae yeojachingu?'' tanya Bambam.
   Shannon masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi, ''Bambam-ah,,,,,''
    ''Ne?'' Shannon terharu, lalu
    ''Ne aku mau.'' ucapnya tersenyum. Bambam yang melihatnya ikut tersenyum.
    ''Gomaweoyo, jeongmal gomaweo.'' ucapnya sambil memeluk Shannon.
    ''Tapi, kurasa bukan kau yang jatuh cinta pada pandangan pertama.'' komentar Shannon. Dan seketika Bambam langsung melepaskan pelukannya.
     ''Maksudmu?''
     ''Yang jatuh cinta pada pandangan pertama itu aku, bukan kau. Karna pertama kali kita bertemu itu di jalan setapak yang menuju ke Seoul International Art School. Waktu itu aku menabrakmu.'' jelas Shannon, Bambam yang mendengar penjelasan itu langsung berfikir.
     ''Kufikir saat itu aku ditabrak oleh seorang yeoja yang.......'' belum selesai Bambam bicara, Shannon langsung memotong perkataannya.
      ''Saat itu rambutku sedang di gelung, jadi tak terlihat rambut pirang panjangku.''
   Bambam mengerutkan keningnya. Lalu sebuah lampu berpijar terang di kepalanya.
  ''Ah kau benar..... Hehehehehe'' ucapnya sambil nyengir.



                 ^^^^~~~~~~~~~^^^^


    ''Misi berhasil!'' teriak Jinyoung,
    ''Jinjahyo oppa?'' tanya Eunjin, Jinyoung mengangguk.
    ''Woah oppa kau hebat,'' puji Dani.
    ''Aniyo, ini juga berkat kalian. Terutama kau Eunjin-ah,'' ucap Jinyoung.
    ''Seharusnya kita tak boleh seperti ini.'' komentar Jaebeom yang baru duduk disamping Jinyoung dengan secangkir kopi ditangan kirinya. Sekarang mereka semua sedang menikmati hangatnya kopi di Queens kafe.
    ''Tak apa hyung, ini juga kan baik untuk mereka,'' bela Youngjae.
    ''Tapi kira-kira apa yang akan dilakukan Bambam hyung ya setelahnya....'' tanya Yugyeom sambil mengkhayal.
      ''Kau pikir apa lagi heoh yang bisa dia lakukan,'' komentar Mark.
     ''Tentu saja Kisseu..'' lanjut Jackson.
     ''Aish,,,,'' desis Eunjin dan Dani bersamaan.
  Namun kemudian mereka tertawa.



                 ^^^^~~~~~~~~~^^^^


    ''Tapi aku senang karna aku mencintaimu.'' ucap Bambam ''Meskipun aku kalah cepat olehmu.'' lanjutnya.
    ''Gwaenchana, aku tidak akan bilang pada siapapun. Yakseok'' ucap Shannon sambil menampilkan jari kelingkingnya, Bambam menyambut jari kelingking itu. Setelahnya, perlahan namun pasti, wajah mereka saling mendekat hingga akhirnya bibir mereka saling bertaut mengalirkan kehangatan ditengah cuaca dingin yang menusuk tulang.

    ''Ouh, Mwoya?'' ucap sebuah suara mengejutkan Shannon dan Bambam. Alhasil mereka langsung menghentikan kegiatan mereka. Bambam menengok keasal suara itu.
    ''Ouh Taecyeon sunbae, kau disini?'' tanya Bambam, Taecyeon mengangguk.
     ''Nickhun hyung juga,'' ucap Taecyeon sambil melirik Nichkhun, Bambam melihat arah tatapan Taecyeon dan benar disana memang ada seorang Nichkhun.
     ''Aigo, uri Bammie sudah besar rupanya.'' ucap Nichkhun lengkap dengan senyum jahilnya. ''Kajja Taecyeonnie, kita sudah mengganggu moment romantis mereka.''
     ''Araseo, araseo. Yasudah lanjutkan lagi kegiatan kalian sebelumnya.'' ucap Taecyeon. Setelahnya mereka berlalu.
    Shannon hanya bisa terkekeh geli melihat kepergian dua sunbae itu. Begitupun dengan Bambam. Kemudian Bambam menatap Shannon, dan memeluknya erat, sangat sangat erat.






                      ^The End^

Powered by Blogger.

Translate

Labels

15& 2AM 2NE1 2PM 5Dolls 9Muses After School Ahn Eunjin Ahn Seo Hyun Ahn Sohee auliasyalwa B.A.P B1A4 Bae Sun Mi Bae Suzy Baek A Yeon Baek Azizah Baek Yebin Baek Yerin Bambam Baro Bestie Big Bang Boyfriend Brothership BTOB BTS Byun Baekhyun Cha Hyun Rin Chapter Cho Kyuhyun Choi Hanny Choi Seung Hyun Choi Seungri Choi Siwon Choi Sungmin Choi Youngjae Cholict Click-B CNBLUE Comedy D.O Davichi DAY6 DIA Do Kyung Soo Donghyun Drama Eunhyuk EXO EXO-K EXO-M F.T. Island Fafiter Challenge Family FANFICTION Fantasy Friendship GFriend Girls' Generation Go Ahra GOT7 Ham Eunjung Han Hye Sun Han Hyo Joo Han Hyori Han Nayeon Hurt Hwang Chansung Hwang Minhyun Im Yoona Jang Geun Suk Jang Wooyoung Jenny Jeon Boram Jia Jinyoung Joo Ji Hoon Jr Jung Ho Seok Jung Il Woo Jung Jinwoon Jung Min Joo Jung Yerin Jung Yong Hwa Juniel Kaeun Kang Hye Ri Kang Hyo Rya Kang Min Hyuk Kang Yo Ra Kang Young Hyun Khunpimook Bhuwakul Kim Bum Kim Dani Kim Hanny Kim Hanny/Choi Hanny Kim Ji Ah Kim Jong In Kim Jong Woon Kim Min Jung Kim Nam Gil Kim Nam Joon Kim Nana Kim Naya Kim Seok Jin Kim So Eun Kim Soo Hyun Kim Sookyu Kim Wonpil Kim Woo Bin Kim Yugyeom Kris Wu Krystal Jung Lee Areum Lee Donghae Lee Hae Na Lee Hyo Jin Lee Hyo Ra Lee Hyukjae Lee Jae In Lee Jang Woo Lee Ji Eun Lee Jong Suk Lee Junho Lee Keina Lee Keumjo Lee Min Ho Lee Qri Lee Seung Gi Lee Sungmin Lee Sunny Lee Yo Won Married-life MellyTaenggo MeloDrama Min Yoon Gi Mistery Myoui Mina Na Haeryung Nam Gyuri Nichkhun Horvejkul Noh Lee Young NU'EST OC Oh Ha Ni Oh Jong Hyuk Ok Taecyeon OneShoot Park Chan Yeol Park Hyomin Park Jae Hyung Park Ji Eun Park Jihyo Park Jimin Park Jiyeon Park Keyla Park Se-young Park Shin Hye Park Soyeon Park Sungjin Park Yeon Jung Rap Monster Risma Song Romance Romantic Roy Kim Ryewook Sandara Park Sandeul School-life SeoHyun Sequel Shannon William Song Minyoung Sowon SPEED Sung Hyun Jae Super Junior T-Ara The Ark Tiffany Hwang Tiramisuu Latté TOP Trilogi Twice TwoShoot U-Kiss Upi Hwang V Wonder Girls Yaoi Yesung Yoo Youngjae Yook Sung Jae Yoon Dowoon Yoon Eun Hye Young K Yuna Kim