Showing posts with label Park Jiyeon. Show all posts

Waiting For You (Part 8) [End] - Upi Hwang [Chapter]

Waiting For You (Part 8) [End] - Upi Hwang [Chapter]










Cast           : Choi Sungmin (SPEED), Myoui Mina (Twice).

Other Cast : Yoo Youngjae (B.A.P), Park Jihyo (Twice), Hwang Minhyun (NU'EST), Song Minyoung, Kim Yugyeom (GOT7).

Cameo      : Jung JinWoon (2AM), Park Jiyeon (T-Ara).

Genre        : School-life.

Cover by    : Reniart

Author       : Upi Hwang.

Lenght       : Chapter.









Warning!


        Yeay fanfic pertama lagi dengan cast yang baru :). Entah kenapa bisa mikir mau masangin mereka. Mina X Sungmin.
        Seperti biasa typo bersebaran, gaje, abal-abal, alur kecepetan, OOC. Dan jika ada kesamaan alur, itu murni ketidaksengajaan.
Dislaimer : Para tokoh bukan milik author, melainkan milik agensi masing-masing dan keluarga, author menggunakan mereka hanya untuk kepentingan cerita.









Part 8

Happy Reading!
(Don't Like, don't read!)






Not only you, but I'm also. Can't you stare at me?






       ''Mina-ya.'' Jihyo memegang tangan Mina yang berada di atas meja. Mina tergelak karnanya. ''Kau tak apa?'' tanyanya. Mina mengangguk.
       ''Apa kau akan menerimanya, Mina-ya?'' tanya Minyoung ragu. Sebuah pertanyaan yang juga ingin diajukan oleh Jihyo.
        Mina menatap kedua sahabatnya itu bergantian. ''Aku......'' Mina menundukkan kepalanya, kembali mengaduk-aduk minumannya. ''Tidak tau!'' lanjutnya. Ya, dia memang tidak tau. Disaat perasaannya terhadap Sungmin yang muncul tiba-tiba ditambah surat itu, surat yang mengatakan Sungmin akan menunggunya. Dan sekarang pernyataan cinta Youngjae yang memintanya menjadi kekasihnya. Haruskah ia memilih Youngjae dan membiarkan Sungmin menunggu sia-sia?
       Mina langsung menggelengkan kepalanya kala ide terakhir itu muncul di kepalanya. Dalam hatinya ia ingin bersama Youngjae, tapi jauh di dalam hatinya ia juga ingin bersama Sungmin. Karna lelah memikirkan itu, tanpa ia kehendaki air matanya turun. Apalagi saat ia membayangkan Sungmin yang sedang tersenyum tulus padanya.
       Jihyo dan Minyoung yang melihat itu jadi khawatir. ''Mina-ya,'' gumam Jihyo. Mina menyeka air matanya sebelum bangkit dan pergi meninggalkan kantin. Hari ini ia tidak mau masuk kelas, ia ingin membolos. Dan akhirnya ia berjalan cepat meninggalkan Jihyo dan Minyoung, menuju ke tempat yang dulu membuatnya menjadi teman seorang Choi Sungmin.

       Mina kembali ke kamar asramanya ketika hari mulai gelap. Ia masuk ke kamarnya dan mendapati tatapan khawatir dari Jihyo dan Minyoung. Mina tersenyum untuk memberitahu mereka bahwa ia tak apa-apa, tapi sedetik kemudian Jihyo dan Minyoung sudah memeluknya erat.
      Mina yang mendapat pelukan hangat, mengangkat tangannya untuk mengelus punggung kedua sahabatnya itu. ''Gwaenchana, jangan khawatir,'' ucapnya menyakinkan. Jihyo dan Minyoung mengangguk sambil terus terisak.






*****+++*****





      Hari ini Mina berjalan seorang diri menuju ke kelasnya karna Jihyo sudah pergi terlebih dahulu, sedangkan Minyoung, ia sedang pulang. Dan ketika ia sedang melewati koridor loker yang sepi, ia melihat seorang Youngjae sedang menatapnya sambil tersenyum.
      Mina terpaku di tempatnya berdiri, apalagi saat ia menyadari pria itu berjalan ke arahnya. Ingatannya tentang pernyataan cinta Youngjae dan pengakuan Sungmin kembali terbayang olehnya.
       Ia tau tujuan pria itu menghampirinya pasti meminta jawaban darinya. Fikiran Mina ingin sekali menjawab iya, tapi hatinya menolak, entah karna apa.
       Mina tetap terpaku bahkan saat Youngjae sudah berada tepat di depannya dan memegang pundaknya. Mina mendongak untuk melihat Youngjae yang lebih tinggi darinya. Ia melihat Youngjae masih dengan senyumannya.
        ''Mina-ya.'' Mendengar Youngjae memanggilnya selembut itu, membuat ia teringat akan Sungmin yang sedang memanggilnya. Pria itu selalu memanggilnya dengan suara lembut.
     Air mata menggenang di pelupuk mata Mina dan tanpa disadarinya, air mata itu jatuh ke salah satu pipinya.
      Youngjae menyadari itu, lalu ia langsung mengusap pelan air mata itu. Mina yang mendapat perlakuan seperti itu malah semakin mengeluarkan banyak air mata. Tangan pria itu terasa dingin di wajah Mina, tidak hangat seperti yang diharapkannya.
      Setelah cukup lama, akhirnya Mina dapat mengendalikan dirinya. Ia menjauhkan tangan Youngjae dari wajahnya. ''Mianhae oppa, tapi aku tidak bisa menerimamu!'' ucapnya kemudian.
       Youngjae, bukannya terkejut, ia malah tersenyum. ''Sudah kuduga, lagipula aku hanya ingin mengatakan apa yang ada di hatiku, itu saja!'' ucapnya beralasan.
       ''Sekali lagi, mianhae oppa.'' Setelahnya ia pergi meninggalkan Youngjae yang masih menatap kepergiannya.






*****+++*****






        Mina terduduk sambil menatap danau yang tenang di hadapannya. ''Tempat ini sama sekali tidak berubah!'' gumamnya dengan buku-buku yang berada di samping tubuhnya.
        Mina mengenakan celana bahan abu-abu dengan kemeja putih lengan panjang. Rambutnya yang sebahu berwarna kecoklatan dibiarkannya tergerai. Dipadu dengan high heels berwarna putih. ''Padahal sudah delapan tahun berlalu sejak hari itu.''
        Mina menutup matanya, membiarkan angin menyapu lembut rambut dan wajahnya. ''Sungmin oppa, apa kabarmu? Apa kau menepati janjimu bahwa kau akan menungguku?'' gumamnya dengan mata yang masih terpejam. ''I miss you, oppa!'' lanjutnya.
         ''I miss you too,'' bisik seseorang tepat di telinga Mina. Mina yang masih memejamkan matanya hanya terkekeh.
        ''Kau menghayal lagi Mina-ya,'' ucapnya menyakinkan dirinya sendiri bahwa yang tadi ia dengar itu bukan suara Sungmin. Karna tidak mungkin Sungmin berada di sini, saat ia tak mendengar suara langkah kaki berjalan.
        ''Jadi itukah yang selama ini kau lakukan selama aku di Amerika?'' tanya suara itu lagi. Mina yang terkejut, menengok ke belakangnya. Dan tambah terkejut ketika ia melihat Sungmin yang berada di belakangnya.
        Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Sungmin yang melihat itu terkekeh, lalu ia mengacak-acak puncak kepala Mina. ''Yak.....''
        ''Apa kabar Mina-ya?'' potong Sungmin. Kemudian ia berjalan ke depan Mina dan berjongkok. Mina membulatkan matanya melihat itu.
       ''Aku......'' Mina tercekat, ia gugup ketika mata Sungmin menatapnya lembut. Rasanya ia ingin sekali berteriak agar pria itu tak menatapnya. ''Aku baik,'' lanjutnya sambil mengalihkan pandangannya. Ia mengipaskan tangannya ke wajahnya yang entah mengapa terasa panas.
      ''Hei, ada apa dengan wajahmu?'' tanya Sungmin dengan nada menggoda.
      ''Memangnya kenapa dengan wajahku?'' tanya balik Mina.
      ''Wajahmu memerah,'' jawab Sungmin santai.
      ''Tidak mungkin!'' Mina mengelak. ''Itu pasti hanya........,''
        Tapi ucapannya menguap ke udara ketika bibirnya menyatu dengan bibir Sungmin. Mina membulatkan matanya, namun ia tak berniat menghentikan Sungmin menciumnya. Apalagi kala ia merasakan kehangatan yang disalurkan dari bibir pria itu. Akhirnya iapun ikut memejamkan matanya seperti pria itu.
        Cukup lama, sebelum Sungmin menghentikan ciuman itu. Tidak ada kemarahan di dalam diri Mina karna ciuman tiba-tiba itu. Ia malah menatap polos diri Sungmin yang sedang tersenyum padanya.
        ''Saranghae!'' ucap Sungmin jujur.
       Mina yang mendengarnya langsung berkaca-kaca. Ia tak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari mulut seorang Sungmin. ''Kenapa baru sekarang?''
       ''Itu karna aku baru berani mengatakannya. Dan aku sudah mempersiapkan diriku untuk ditolak olehmu.'' Sungmin mengelus lembut pipi Mina. Hangat, itulah yang ia rasakan.
         Mina langsung memeluk erat Sungmin. ''Bodoh, kau tau. Aku lelah menunggumu! Dan aku sempat berfikir, untuk ke depannya lebih baik aku menikah saja dengan pria lain. Dari pada pria yang kutunggu tak juga hadir!''
       Sungmin terkekeh dan balas memeluk Mina. ''Apa itu artinya kau mau menerimaku?'' tanya Sungmin memastikan. Mina mengangguk pasti. ''Baiklah, seperti kita sudah cukup umur untuk menyusul Eunjung noona dan Taecyeon hyung!''
       Mina langsung melepaskan pelukannya dan menatap Sungmin lekat. ''Jadi kau sudah tau jika mereka sudah menikah?'' tanyanya tak percaya yang mendapat anggukan dari Sungmin.
       ''Kenapa terkejut seperti itu?'' tanya Sungmin santai. ''Aku bahkan tau ketika pria itu menyatakan perasaannya padamu lewat siaran radio!''
        Mina membulatkan matanya. ''Lalu kau juga tau, jika aku........'' Mina tak dapat melanjutkan perkataannya. Sungmin yang mengerti, mengangguk.
        ''Aku terkejut kenapa kau menolaknya. Bukankah dia pria yang kau tunggu selama ini? Tadinya aku fikir kau akan menerimanya.''
       Mina menggeleng. ''Aku juga bingung, kenapa aku bisa menolaknya dan malah memilih untuk menunggu pria menyebalkan sepertimu. Yang meninggalkanku dan menitipkan perasaanmu lewat sebuah surat jelek!'' gerutu Mina.
      Sungmin tertawa mendengar gerutuan Mina, dan tawanya semakin terdengar kala Mina cemberut.
       ''Kan sudah kubilang, sebenarnya aku juga tidak mau menulis surat! Tapi apalah daya, yang ada hanya selembar kertas lusuh dan amplop usang. Jadi aku hanya tinggal mengambil pulpenku dan menuliskan kata-kata di sana!'' jelas Sungmin.
       Mina tersenyum, sangat manis. Senyuman yang sangat dirindukan Sungmin selama delapan tahun ini. Sungmin kemudian berdiri dan memeluk Mina sehingga Mina dengan pas berada di dalam dada bidangnya. Wangi maskulin langsung meresap ke hidung Mina. Sangat nyaman sampai ia tidak mau melepaskan pelukan itu. ''Tapi aku senang kau masih menungguku,'' bisiknya.
       Mina mengangguk. ''Terima kasih juga sudah mau menunggu!'' balas Mina.

       ''Kau pakai sampo apa?'' tanya Sungmin memecah keheningan yang sempat terjadi diantara mereka.
       ''Kenapa?''
       ''Aku menyukainya. Seperti aku menyukai tubuhmu!'' ucap Sungmin dengan nada menggoda.
        Mina yang mendengarnya langsung mendorong tubuh Sungmin agar menjauh. ''Yak, dasar yadong!'' bentak Mina. Wajahnya sudah memerah karna ucapan Sungmin.
       Sungmin terkejut, lalu ia terkekeh. ''Aku hanya bercanda, Mina-ya,'' ucapnya bersungguh-sungguh. Mina menatap ke mata Sungmin mencari kebenaran di dalam sana. Mina tak menemukan kebohongan.
       Hingga akhirnya ia hanya bisa menunduk. Sungmin yang melihat itu, mengangkat dagu Mina agar bisa menatapnya. Lalu ia menampilkan sebuah senyuman. ''Saranghae,'' ucapnya lagi. Kemudian dengan lembut ia menuntun wajah Mina mendekat, untuk menyatukan bibir mereka kembali.
        ''Gomaweo,'' ucap Mina disela-sela ciuman mereka. Sungmin tak menghiraukan, ia malah terus melumat bibir Mina yang semanis cherry.






*****+ The End +*****




24 Juli 2016

Boy In Luv - Upi Hwang (OneShoot)

Boy In Luv - Upi Hwang (OneShoot)




Cast           : Lee Junho (2PM), Park Jimin (BTS)

Other Cast : Park Jiyeon (T-Ara), Shannon William.

Genre        : Brothership, Romance.

Author       : Upi Hwang.

Lenght       : Oneshoot.





Warning!




        Typo bertebaran, Alur kecepetan, Gaje, abal dan ide pasaran. Ooc. Dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan. Maklum author abal-abal.
      Sesungguhnya para tokoh bukan milik author, melainkan milik agensi dan orang tua masing-masing, author hanya memakai mereka untuk keperluan cerita.












Happy Reading!
(Don't like, don't read).






         Seoul, Korea Selatan 2016.



       ''Ne hyung,'' ucap suara yang terdengar masih mengantuk.
       ''Aku masih di rumah. Dan, bandara? Untuk apa aku ke sana, ini masih terlalu pagi hyung...,'' ucapnya sambil melangkah ke dapur untuk minum.
        ''Mwo? Kau sudah kembali dari Jepang? Dan sekarang kau di bandara? Araseo, araseo. Jankanman-yo.....''
       Setelah memutuskan sambungan telphone, pria itu segera bergegas ke dalam kamar, mengambil kunci mobil dan pergi ke bandara untuk menjemput hyungnya.

       Tak butuh waktu lama baginya mengendarai mobil untuk sampai di bandara internasional Incheon. Apalagi jalanan yang senggang di minggu pagi.
       Ia mencari-cari hyungnya itu. Dia akan menelpon, akan tetapi. ''Jimin-ah,'' panggil seseorang padanya. Ia menengok dan melihat hyungnya yang sedang melambaikan tangan kepadanya lengkap dengan senyuman dan kopernya.
       Jimin berjalan ke arahnya, lalu tanpa aba-aba, ia langsung memeluk tubuh pria yang lebih tinggi darinya itu. Pria itu terkekeh. ''Junho hyung, kenapa kau baru kembali?'' ucapnya sambil merengek.
      ''Cih, jangan bertingkah seolah kau itu kekasihku! Dan bukankah kau senang aku lama di luar negeri,'' ucap Junho sambil mendecih.
      Jimin hanya nyengir dan menampilkan sederet giginya yang putih. Junho yang melihatnya kesal, lalu berpura-pura akan memukul Jimin. Jimin juga refleks mengangkat tangannya untuk melindungi kepalanya yang akan dipukul oleh Junho.
      ''Sudahlah hyung, kajja.'' Jimin berjalan lebih dulu dengan membawa koper Junho. Di belakangnya, Junho mengekor dengan tas di punggungnya.
       Jimin mengendarai mobilnya dengan sangat santai. Sedangkan Junho sedang memperhatikan jalanan dengan kaca mobilnya yang terbuka dan tangannya menyangga dagunya. Mereka mendengarkan lagu Hopeless Love, suara gadis yang full power terdengar mengisi seluruh mobil. Suaranya sangat indah. ''Bukankah penyanyi ini juga bernama Park Jimin?'' tanya Junho. Jimin yang sedang terfokus pada jalanan di depannya menengok.
       ''Ah ne, dia juara pertama di salah satu ajang pencarian bakat, hyung.'' Lalu ia melihat Junho tersenyum geli. ''Wae?''
       ''Dulu kukira itu adalah kau! Ternyata dia seorang gadis.'' Jimin mendengus saat Junho mengatakan alasannya tersenyum geli.
      ''Makanya hyung, jangan terlalu lama di Jepang dan berkutat dengan dokumen-dokumen memuakkanmu!''
       ''Eits, jangan seperti itu. Dokumen itu adalah sumber uangku,'' jawab Junho santai tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. ''Lima tahun ku di Jepang, Seoul sudah banyak berubah!'' gumamnya. Jimin tak menanggapi. ''Ah apakah apartement ku juga berubah?'' tanya Junho seakan baru menyadari tempat tinggalnya yang sudah lima tahun ia tinggalkan.
        Jimin meneguk ludahnya dan wajahnya berubah pucat. Junho menyadari perubahan itu dan ia mendengus. ''Sudah kuduga, pasti sekarang tempat itu seperti tempat pembuangan sampah!''
        Jimin langsung menengok ke arah Junho yang masih memandang jalanan di luarnya. ''Yak, tidak seperti itu juga hyung! Mungkin hanya sedikit berantakan saja,'' bela Jimin tak mau disalahkan karna tidak menjaga apartement hyungnya dengan baik.
        Junho tidak menanggapi, karna sekarang tatapannya terpaku pada seorang gadis yang sedang berdiri di pinggir jalan sambil terus menggerutu. Rambutnya yang coklat kepirangan tergerai dan tertiup angin. Junho terkekeh melihat gadis itu yang mulutnya terus mencibir.
       Jimin mengerutkan keningnya saat hyungnya itu terkekeh sendiri, dan mengangkat sebelah alisnya. ''Ada apa hyung?'' tanyanya penasaran. Junho menggeleng, lau ia meminta turun saat itu juga. ''Tapi kenapa hyung?'' tanya Jimin penasaran saat Junho sudah berada di luar mobilnya.
       ''Sudah, kau pulang saja sana! Aku harus bertemu dengan seseorang terlebih dahulu!'' Jimin mengangguk dan langsung pergi meninggalkan Junho yang sudah menyeberangi jalan. Ia sempat melihat Junho yang memberhentikan taxi dan masuk ke dalamnya. Tapi ia tak peduli, toh hyungnya itu sudah menyuruh dirinya pulang lebih dulu.

        Ternyata Junho sengaja menaiki Taxi dan berhenti di hadapan sang gadis yang tadi sedang dilihatnya. Ia melongokkan kepalanya dari jendela yang terbuka itu. ''Butuh tumpangan nona?'' tanyanya lembut lengkap dengan senyuman yang menggoda.
       Gadis itu menatap tajam dan penuh selidik pada Junho. ''A..ku hanya menawarkan!'' ucap Junho sedikit gugup saat mendapat tatapan tajam dari seorang gadis.
        Gadis itu tampak berfikir sebelum akhirnya ia mengangguk dan masuk ke dalam taxi yang sedang ditumpangi oleh Junho. ''Kau mau ke mana nona?'' tanya Junho saat gadis itu menaruh ponselnya di dalam tas.
       Sang gadis menatap lekat Junho sebelum beralih ke supir taxi. ''Ahjussi, Kyunghee University.'' Sang supir mengangguk, begitu juga Junho. ''Terima kasih mau berbagi tumpangan denganku!'' ucap gadis itu pada Junho. Junho tersentak. Lalu ia mengangguk.
      ''Aku Lee Junho, dan kau nona. Siapa namamu?'' Kemudian Junho kembali mendapat tatapan tajam dari gadis itu. ''Ah, bukankah tidak baik jika tidak saling mengenalkan diri?'' ucap Junho mencoba mengelak.
       ''Sudahlah, aku Park Jiyeon.'' Jiyeon, ia menjabat tangan Junho yang terulur.
       ''Nama yang indah, seperti orangnya.''
       ''Berhenti menggombal!'' ucap Jiyeon cepat. Ia sudah terbiasa mendengar pria-pria menggodanya seperti itu. ''Ahjussi, bisa lebih cepat?'' ucapnya pada sang supir.
       Supir itu mengangguk. ''Ne nona, jankanman-yo!''
       Junho tak henti-hentinya menatap wajah cantik bak malaikat di sampingnya itu. Dan sang malaikat itu juga seperti tidak merasa diperhatikan.
       ''Terima kasih,'' ucap Jiyeon menyadarkan Junho dari lamunannya ketika ia sudah berada di depan gerbang universitas dan sudah berada di luar mobil.
      ''Ah ne...,'' ucap Junho. ''Kalau begitu, aku pergi dulu ne. Jiyeon-ssi.'' Jiyeon mengangguk dan membelakangi Junho dan mulai berjalan. Namun ia dihentikan oleh Junho.
       ''Ada apa lagi, Junho-ssi?''
       ''Bolehkah aku minta nomormu?''
       Jiyeon mengerutkan keningnya. ''Tapi untuk.....''
       ''Ayolah, kumohon.''
       Setelah berfikir, akhirnya ia mengangguk dan mulai mengetik nomornya di ponsel Junho. Kemudian ia memberikan ponsel itu kembali. ''Jaa ne,'' ucap Junho sambil melambaikan tangannya dan kembali masuk ke dalam taxinya lalu pergi dari sana.

.
.
.

       Junho tak perlu mengetuk pintu untuk masuk ke apartement -nya sendiri yang sudah ia tinggalkan selama lima tahun. Meskipun kode kunci itu sudah diubah, tapi ia masih memiliki kunci.
      Dan ketika ia sudah ada di dalam, ia melihat Jimin yang sedang asik menatap layar televisi di depannya saat ini. Junho menggelengkan kepalanya sebelum duduk di samping Jimin.
       Jimin menengok sekilas, sebelum ia menatap kembali layar televisinya. ''Kau tidak kuliah?'' Jimin menggeleng. ''Kenapa?''
      ''Hari ini aku libur hyung.'' Junho mengangguk. Ia juga memakan pop corn yang terbengkalai di atas meja.
      ''Kukira kau membolos!''
      ''Tentu saja tidak hyung!'' bela Jimin, cepat.
      ''Bagus, aku tidak mau menghamburkan uangku, hanya untuk adik yang tidak mau masuk kuliah!'' ucap Junho tajam sebelum beranjak dari sana dan pergi ke kamarnya.
       Jimin mendengus tetapi ia tidak marah. Karna apa yang dikatakan Junho itu memang benar.  Hyungnya itu tidak perlu mengeluarkan uang kuliah, jika ia kuliah dengan asal-asalan, benarkan?





.
.
.
.


        ''Kunci mobil!'' pinta Junho saat Jimin baru saja turun dari mobil.
       ''Tapi nanti aku pulang bagaimana, hyung?'' tanya Jimin.
       ''Kau bisa pulang naik taxi, bis, bahkan kereta. Jadi cepat berikan kunci!''
      Jimin mendengus, tapi ia tetap memberikan kunci itu. ''Sayang sekali, padahal aku akan mengenalkanmu pada guru yang paling cantik di sini. Tapi karna kau meminta kembali kunci mobil.....'' Belum sempat Jimin menyelesaikan perkataannya Junho sudah mengambil paksa kunci mobilnya.
      ''Aku tidak peduli! Karna hari ini aku ada janji kencan. Kau urus saja gadis-gadismu sendiri.....'' Setelah mengatakan hal itu Junho langsung pergi dari sana.
      Jimin mengerutkan keningnya. ''Apa dia yakin? Padahal aku yakin Jiyeon sonsaengnim pasti adalah tipenya,'' gumamnya. ''Dia cantik, sexi pula. Ah hyung itu aneh sekali! Tapi tak apalah, jika nanti dia bertemu Jiyeon sonsaengnim, pasti aku akan kalah saing dengannya,'' lanjutnya sambil berlalu dari sana, masuk ke dalam universitasnya.



       Di tempat Junho, ternyata ia pergi ke Queens kafe. Ia duduk di sudut ruangan dekat jendela. Ia melambaikan tangannya ketika orang yang ditunggunya sudah datang. ''Jiyeonnie,'' panggilnya.
       Jiyeon, dia menengok dan tersenyum. Lalu ia berjalan ke tempat Junho duduk dan duduk di hadapan pria itu.
       ''Maaf sudah membuatmu menunggu lama.'' Junho menggeleng sambil tersenyum. ''Kau tau, kau itu pria napeun.'' Junho mengerutkan keningnya. ''Dan aku setuju jalan denganmu hanya karna beberapa gombalanmu! Padahal kita baru saja bertemu. Aku sungguh tak percaya itu,'' jujur Jiyeon.
       Bukannya marah Junho malah terkekeh mendengar pengakuan yang jujur itu. ''Aku tersanjung nona,'' ucapnya masih dengan senyuman menggodanya.
       ''Ngomong-ngomong, kau seperti salah satu muridku yang sedikit errrr.'' Jiyeon tak meneruskan kata-katanya karna ia sudah bergidik ketika memikirkannya.
       ''Kenapa? Apa dia sepertiku? Napeun namja?'' Jiyeon mengangguk sambil meminum kopi yang sudah dipesankan untuknya. ''Siapa?''
       ''Park Jimin, dia sering menggodaku. Dan yang paling sering dia ucapkan adalah, sayang guru, kau jauh lebih tua dariku, tapi aku tidak masalah jika kau menginginkanku!'' ucap Jiyeon sambil berbisik. Junho terkekeh.
       ''Lalu, kenapa kau tidak menerima bocah tengik itu? Padahal kau sudah kenal dengannya lebih lama. Tapi kau malah menerima ajakan kencanku yang baru kau kenal dua hari lalu?''
       Jiyeon menatap lekat Junho. ''Aku tidak mungkin menerimanya, aku tidak menyukainya. Dan untukmu, entahlah.. Aku seperti tersihir olehmu!'' ucap Jiyeon jujur.
       Junho tersenyum. ''Aku tersanjung. Sudah, kajja kita pergi,'' ajak Junho sambil bangkit dan mengulurkan tangannya, lalu Jiyeon menyambut uluran tangan itu dengan senang hati.
      Mereka pun berjalan menjauhi Queens kafe.


.


      Di tempat Jimin, ia kesal karna hari ini tak bisa pulang dengan mobil hyungnya itu. Ditambah lagi bis yang menuju ke apartement hyungnya tidak ada. Dan taxi belum ditemuinya sepanjang jalan. Alhasil iapun berjalan kaki sambil sesekali menendang apapun yang ada di depan kakinya, hingga ia dengan kesal menendang kaleng minuman tanpa melihat ke depannya.

     Pletak

       Ia mendengar kaleng itu mengenai sesuatu. Dan ia mengangkat wajahnya, di saat itu ia baru menyadari bahwa kaleng yang tadi ditendangnya mengenai kepala seseorang. Kepala seorang gadis dengan rambut blonde berponi depan, wajahnya seperti orang-orang luar.
      Itulah yang ia sadari sebelum ia menyadari bahwa tatapan gadis itu menatap tajam padanya. Ia juga meneguk ludahnya paksa saat melihat gadis cantik itu berjalan ke arahnya.
      Dan tanpa basa-basi lagi, gadis itu langsung memukul kepala Jimin dengan buku tebal yang sedang dibawanya. ''Dasar napeun!'' teriaknya tepat di depan wajah Jimin.


      Dan kejadian itu baru saja dilihat oleh Jiyeon-Junho yang baru saja keluar dari Queens kafe. Mereka terpaku. Sebelum akhirnya Junho tertawa. Kemudian mereka berjalan ke arah Jimin dan gadis yang baru saja memukul kepala pria itu. ''Shannon-ah, ada apa? Apa pria ini merayumu?'' tanya Jiyeon khawatir saat tau siapa gadis yang baru saja memukul muridnya itu.
      Shannon menggeleng. ''Dia menendang kaleng. Dan kaleng itu jatuh mengenani kepalaku eonni....,'' ucap Shannon manja. Jiyeon yang mendengarnya langsung memeluk Jiyeon.
       Jiyeon tak menyadari bahwa ia sedang ditatap penuh tanya oleh kedua namja yang ada di dekatnya itu. ''Kau mengenalnya sonsaengnim?'' tanya Jimin ragu. Namun belum sempat Jiyeon menjawab, Junho langsung berjalan dan berhenti di samping Jimin. Lalu pria itu merangkul pundak Jimin.
       ''Pasti tadi itu sangat sakit ne?'' tanya Junho dengan nada mengejek. Kali ini Junho mendapat tatapan bertanya dari Jiyeon.
        ''Kau mengenalnya Junho-ya?'' Junho menatap Jiyeon dan tersenyum. Ia mengangguk.
        ''Ne, dia adikku!'' Jiyeon membulatkan matanya.
       ''Pantas saja, kalian hampir mirip baik wajah dan sifatnya!'' gumam Jiyeon. ''Dan Jimin-ssi, ne aku mengenal gadis ini!'' ucap Jiyeon pada Jimin sambil mengusap lembut poni Shannon. ''Dia sepupuku yang baru datang dari Inggris,'' lanjutnya. Jimin mengangguk mengerti.
       ''Lalu, kenapa kalian bisa bersama hyung? Sonsaengnim?'' tanya Jimin sambil menatap Jiyeon dan Junho bergantian.
        ''Kau akan terkejut, kami sepasang kekasih! Dan kami baru saja pulang dari kencan kami yang pertama.''
       Semua orang yang ada di sana terkejut, termasuk Jiyeon. ''Itu tidak seperti itu, Jimin-ssi,'' sangkal Jiyeon sedikit kikuk. ''Tapi kami....''
       ''Semalam kau sudah menerimaku, apa kau lupa chagiya?'' tanya Junho sambil menggoda. Jiyeon, yang digoda sudah memerah sempurna.
       Lalu mereka mendengar Jimin mendengus. ''Kau curang hyung! Kau sudah mengambil guru paling cantik yang kusukai!'' gerutu Jimin.
       Junho menyeringai lalu ia kembali berdiri di samping Jiyeon dan memeluk pinggang Jiyeon. ''Yak.....,''
       ''Sudahlah chagi, kajja. Biarkan sepupumu dan adikku itu menikmati kencan mereka.'' Jiyeon yang mendengarnya, mengangguk.
        ''Yak kami tidak berkencan!'' teriak Shannon dan Jimin bersamaan. Namun yang mereka teriaki sudah berjalan menjauh. Dengan tangan Junho yang masih memeluk pinggang Jiyeon.

       Mereka terus menatap kepergian Jiyeon dan Junho. Setelahnya Jimin menatap lekat Shannon. Shannon yang merasa diperhatikan, menengok. ''Kenapa kau?'' tanya Shannon jutek.
       Jimin menggeleng dan tersenyum aneh. ''Ternyata kau cantik juga, Shannon-ah.'' Shannon yang mendengarnya langsung menatap Jimin tak percaya, apalagi saat ia menyadari tatapan Jimin yang tidak hanya menatap wajahnya.
      Lalu dengan sigap ia memukul kembali kepala Jimin dengan buku tadi, kali ini jauh lebih keras. Jimin langsung meringis sambil memegangi kepalanya yang baru saja kenal pukul.
      ''Yak!'' Jimin akan marah, namun Shannon sudah meninggalkan Jimin yang masih memegangi kepalanya.
     ''Dasar napeun namja-ya!'' teriak Shannon tanpa menengok ke belakang.
      Jimin yang mendengarnya, langsung berlari mengejar gadis blonde itu yang sudah berada jauh di depannya.






The End.



23 Juli 2016




Its so finally. Judul sama cerita gak nyambung, bingung mau ngasih judul apa. And then, ini request'an bestie author... #SI.. Gak bisa bikin yang panjang, ide mentok.. Hope you like it!

Waiting For You (Part 4) - Upi Hwang [Chapter]

Waiting For You (Part 4) - Upi Hwang [Chapter]






Cast           : Choi Sungmin (SPEED), Myoui Mina (Twice).

Other Cast : Yoo Youngjae (B.A.P), Park Jihyo (Twice), Hwang Minhyun (NU'EST), Song Minyoung, Kim Yugyeom (GOT7).

Cameo      : Jung JinWoon (2AM), Park Jiyeon (T-Ara).

Genre        : School-life.

Cover by    : Reniart

Author       : Upi Hwang.

Lenght       : Chapter.









Warning!


        Yeay fanfic pertama lagi dengan cast yang baru :). Entah kenapa bisa mikir mau masangin mereka. Mina X Sungmin.
        Seperti biasa typo bersebaran, gaje, abal-abal, alur kecepetan, OOC. Dan jika ada kesamaan alur, itu murni ketidaksengajaan.
Dislaimer : Para tokoh bukan milik author, melainkan milik agensi masing-masing dan keluarga, author menggunakan mereka hanya untuk kepentingan cerita.









Part 4

Happy Reading!
(Don't Like, don't read!)






Not only you, but I'm also. Can't you stare at me?







      Orang itu menatap datar Mina. Sedangkan Mina, ia menatap orang itu masih dengan keterkejutannya. Orang itu melepaskan pegangannya, lalu ia memandang kearah lain.
      ''Khamsamnida Su......,'' Mina tercekat ketika ingin mengatakan nama sang penolong. ''Sungmin-ssi,'' ucapnya pelan.
      Sungmin menatap Mina.''Lain kali hati-hati! Perhatikan sekitarmu!'' ucapnya sambil berlalu meninggalkan Mina yang masih berdiam diri.
      Mina memandang punggung yang sudah mulai menjauh itu. ''Sungmin-ssi, mianhae atas kata-kataku waktu itu!'' teriak Mina. Sungmin berhenti dan menengok ke belakang, ke arah Mina. Bertepatan dengan itu, Mina sudah berbalik, dan berjalan pergi dengan arah yang pertama kali ia datang. Sungmin tersenyum tipis melihat Mina yang sedang berlari-lari kecil.
      ''Unik!'' gumamnya.







*****+++*****








        Sungmin baru saja dari ruang kepala sekolah. Ia habis melapor jika ia sudah selesai dengan izin liburnya beberapa hari lalu. Sekarang keadaan ayahnya sudah membaik, jadi ia bisa kembali lagi ke Seoul.
      Saat ia akan menuju ke asrama, ia tak sengaja berpapasan dengan Jinwoon sonsaengnim yang sedang merangkul pinggang Jiyeon sonsaengnim di koridor kelas.
      ''Cih,'' desisnya. ''Apa mereka selalu begitu?'' gumamnya bertanya sebelum akhirnya ia memutar arah untuk kembali ke asramanya.

      Sungmin yang sedang berjalan seorang diri tanpa sengaja bertemu Minyoung di aula asrama. ''Ouh Sungmin-ssi?'' tanyanya mencoba mengingat nama Sungmin.
      ''Ne?''
      ''Song Minyoung imnida,'' ucapnya sambil mengulurkan tangannya. ''Kita bertemu seminggu yang lalu, saat kau marah pada Mina-ya,'' lanjutnya.
       ''Apa maksudmu? Siapa yang marah dengan siapa?'' tanya Sungmin tak percaya.
       Minyoung mengerutkan keningnya. ''Jadi kau tak marah pada Mina-ya, ku kira kau marah padanya. Karna kau tersinggung dengan kata-katanya.''
      Sungmin terkekeh, ia menggeleng. ''Aku mungkin kesal dengan kata-katanya. Tapi untuk marah karna hal seperti itu? Heoh konyol!'' ucapnya.
       ''Ini kabar bagus untuk Mina-ya, dia sangat sedih sejak hari itu. Kalau begitu, aku permisi. Maaf sudah mengganggumu!'' ucap Minyoung senang sambil berlalu meninggalkan Sungmin yang masih terpaku.
      ''Gadis itu sama saja dengannya! Dasar aneh!'' gumamnya sambil menggelengkan kepala.

.
.
.
.
.

       Di kamar Mina dan Jihyo sedang bersenda gurau. Lalu mereka menghentikan kegiatannya ketika pintu terbuka. Mereka menatap lekat Minyoung yang sedang tergesa-gesa. ''Waeyo?'' tanya Jihyo.
      ''Ne, ada apa Minyoung-ah?'' tanya Mina khawatir. Minyoung menggeleng.
      ''Dia tidak marah padamu, Mina-ya!'' ucap Minyoung memekik. Jihyo dan Mina mengerutkan kening mereka.
      ''Nuguya?'' tanya Jihyo mendahului Mina. Mina mengangguk menimpali pertanyaan Jihyo.
       ''Sungmin-ssi! Pria blonde itu, ia tidak marah denganmu!'' jawabnya setengah memekik.
        Jihyo menatap malas Minyoung, sedangkan Mina menatap Minyoung penuh keingin-tahuan. ''Jangan bilang kau masih memikirkannya, Mina-ya?''
      ''Benarkah dia tidak marah padaku?'' gumam Mina tanpa menjawab pertanyaan Jihyo. Minyoung mengangguk. ''Dari mana kau tau, Minyoung-ah?''
       ''Aku bertanya padanya saat tadi kami berpapasan di koridor asrama,'' ucap Minyoung. Mina mengangguk.
       ''Tunggu dulu, pria blonde?'' tanya Jihyo. Minyoung mengangguk. ''Sejak kapan pria itu blonde? Bukan kah setau ku warna rambutnya merah?'' tanyanya kemudian, bingung.
       ''Ne aku baru sadar, ternyata sekarang rambutnya blonde ne......'' gumam Mina.







 *****+++*****







        Mina dan Jihyo berpisah dengan Minyoung di koridor kelas. Karna memang kelas mereka berbeda. Sudah tiga hari berlalu semenjak hari di mana Mina melihat Youngjae di depan toko buku. Mina terus memikirkan pria itu, meski ada kemungkinan dia salah. Tapi kemungkinan besar itu dia! Ya, pria yang ia lihat itu Youngjae, pria yang sudah mengisi seluruh hatinya.

      Keramaian kelas terhenti saat ada seorang guru masuk bersama dengan seorang siswa. Mina membulatkan matanya ketika melihat siswa itu. Dan ia juga tak menyadari bahwa Sungmin baru saja duduk di bangku belakangnya.
      Sungmin memperhatikan raut terkejut di wajah Mina. Dan melihat ke depan kelas, mencari tau apa yang menyebabkan gadis di depannya ini terkejut hingga membulatkan matanya. ''Seorang pria, eh?'' gumamnya.
       ''Ternyata itu benar kau, Youngjae oppa.'' Sungmin membelalakkan matanya kala mendengar Mina memanggil pria itu dengan sebutan oppa. Padahal suara Mina cukup pelan untuk didengar oleh siapapun, tapi tidak dengan Sungmin, ia berhasil mendengar gumaman gadis itu.
       ''Dia adalah teman baru kita,'' ucap Jinwoon sonsaengnim. ''Youngjae-ssi, perkenalkan dirimu!'' Pria yang bernama Youngjae itu mengangguk.
      ''Annyeong, Yoo Youngjae imnida. Aku baru pindah dari Inggris, jadi mohon bantuannya,'' ucap Youngjae dengan bahasa korea yang lancar.
      ''Baiklah, kau boleh duduk!'' ucap Jinwoon sonsaengnim. Youngjae mengangguk sebelum berjalan menuju bangku kosong yang ada di ruang kelas itu.
      Pandangan Mina tak pernah teralihkan dari Youngjae. Begitu juga Sungmin yang masih memperhatikan gelagat Mina.
     Mina terlihat tersenyum kala Youngjae melihat ke arahnya. Tapi tatapan Youngjae hanya tatapan datar, seperti orang yang baru pertama kali kenal.


.
.
.


       ''Youngjae oppa,'' panggil Mina saat ia sedang berada di koridor yang sepi dan tak sengaja melihat Youngjae berjalan kearahnya.
       Youngjae berhenti dan menatap Mina lekat, ''siapa kau?'' tanyanya datar. Mina terpaku mendengar pertanyaan itu. *Lupakah dia padaku?* batinnya.
        ''Oppa......,''
        ''Ah apa kau salah satu penggemarku?'' potong Youngjae menerka. Mina tak percaya akan kata-kata Youngjae. *Apakah dia benar-benar lupa padaku? Pada janji dia sendiri yang pernah ia ucapkan padaku* batin Mina menjerit.
      Setelah cukup lama, Mina memberanikan diri menatap Youngjae, dan tersenyum pada pria itu. Lalu ia menggeleng. ''Ani, aku salah orang!'' ucapnya tenang, sangat tenang. Padahal matanya sudah memerah karna menahan tangis.
      Kemudian ia berbalik dan meninggalkan Youngjae yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Sebelum ada yang menepuk pundaknya.
      Youngjae menengok, ''Ouh Minyoung-ah,'' ucapnya. Minyoung tersenyum, ia melihat Mina yang baru saja pergi.
      ''Kalian sudah bicara?'' Youngjae mengangguk. Ia mengerti siapa yang sedang mereka bicarakan. ''Ah senang sekali. Oppa, kurasa gadis itu sudah lama menunggu kedatanganmu kembali!''
       Youngjae menatap lekat Minyoung. ''Apa maksudmu? Ah jadi benar dia itu fans -ku?'' terka Youngjae. Minyoung mengerutkan keningnya.
       ''Yak bukan hubungan fans dengan idolanya oppa! Yang kumaksud, seperti kalian itu adalah teman lama atau mungkin lebih. Seperti itu!'' ucap Minyoung sedikit kesal.
       ''Benarkah?'' Minyoung mengangguk. ''Tapi aku tak mengenalnya, sungguh!'' lanjut Youngjae. Minyoung membulatkan matanya.
        ''Kau bohongkan oppa?''
        ''Sungguh aku tak mengenalnya!''
        ''Tidak mungkin, tapi Mina.....'' Minyoung tak melanjutkan kata-katanya, ia malah berlari meninggalkan Youngjae seorang diri. Ia berlari mengejar Mina yang sudah menghilang di koridor.





*****+++*****





       Mina terus berjalan menjauh dari koridor. Bahkan ia tak peduli bahwa bel masuk akan segera berbunyi. Hari ini ia ingin membolos, itulah yang sudah dibulatkan oleh tekadnya.
      Ia berjalan ke hutan yang ada jauh di balik taman belakang sekolah. Ia terus masuk, tanpa ada rasa takut, padahal ini pertama kalinya ia ke sini. Karna sekarang yang ada di fikirannya adalah menjauh dan tenang. Hingga ia berhenti di sebuah danau kecil yang ada di dalam hutan. Matanya terpaku melihat keindahan danau yang tenang itu. Tanpa menyadari bahwa sudah ada orang lain yang berada di sana.
      Hingga orang itu menengok. ''Kau....'' ucap mereka berbarengan. Mina menghela nafas sebelum berjalan dan duduk di samping pria itu di bangku panjang yang entah mengapa ada di sana.
       Mina menatap danau di depannya, diam membisu. Orang itu memperhatikan Mina yang diam. ''Sejak kapan kau di sini, Sungmin-ssi?'' tanya Mina.
      Sungmin, ia melihat pemandangan yang sedang dipandang oleh Mina. ''Sejak pelajaran Jinwoon sonsaengnim berakhir.'' Mina membulatkan matanya, lalu menatap Sungmin. Bertepatan dengan itu, Sungmin menyodorkan sekaleng minuman dingin. Mina dengan ragu mengambilnya. ''Ini memang tempat favorit ku, aku selalu kemari saat aku tak mau mengikuti pelajaran. Dan aku heran kenapa kau bisa menemukan tempat persembunyianku!'' lanjutnya.
        ''Aku hanya berjalan! Dan aku berhenti saat melihat danau itu,'' ucap Mina sambil menunjuk danau yang airnya sangat jernih.
       ''Kenapa kau ke sini? Bukankah pelajaran Jiyeon sonsaengnim akan segera dimulai?'' tanya Sungmin saat tadi sempat terjadi keheningan diantara mereka.
       ''Aku membolos. Aku ingin ketenangan!'' jawab Mina tanpa menengok kearah Sungmin. Lalu ia meminum minuman yang tadi diberikan oleh Sungmin.
      Sungmin memperhatikan hal itu. ''Apa kau ditolak oleh anak baru itu?'' tanya Sungmin langsung. Mina terkejut mendengarnya, ia pun menengok. Dan disaat itu ia melihat Sungmin yang sedang menyengir ke arahnya. ''Aku hanya bercanda!'' ucapnya sambil tersenyum.
      Mina terpaku melihat cengiran dan senyuman Sungmin yang entah mengapa terlihat sangat indah oleh mata Mina. Mina menggeleng-gelengkan kepalanya saat pikiran itu hinggap di kepalanya.
       Sungmin mengerutkan keningnya. ''Wae Mina-ssi?'' tanyanya khawatir sambil mengguncangkan kedua bahu Mina.
       Mina tersadar, lalu dengan gugup ia menjawab. ''Ani, ani......''
      Sungmin menjauhkan tangannya dari bahu Mina, tapi masih menatap Mina. ''Kau tau Mina-ssi.'' Mina menggeleng. Sungmin menghentikan perkataannya cukup lama hingga membuat Mina penasaran dengan kelanjutan kalimat Sungmin. ''Kau itu aneh!''
      Mina mengerutkan keningnya. ''Aneh? Aneh bagaimana maksudmu?''
      Sungmin kembali menatap Mina sebelum ia menjawab. ''Kau itu terlalu banyak berfikir!'' Mina akan memotong perkataan Sungmin, tapi pria itu sudah terlanjur melanjutkan perkataannya. ''Jika kau salah ya minta maaf lah, jangan berfikir orang itu akan memaafkanmu atau tidak! Karna jika kau memikirkannya sampai akhir pun kau tidak akan pernah meminta maaf.'' Mina tercengang mendengarnya, benarkah ia terlalu banyak berfikir walau hanya untuk meminta maaf? Mina menundukkan kepalanya sebelum kembali menatap Sungmin. Disaat itu ia melihat Sungmin yang sedang tersenyum lembut padanya.
       Melihat senyuman Sungmin yang sangat tulus membuat Mina merasakan ketenangan yang luar biasa. Dengan hanya melihat senyuman itu bisa membuatnya melupakan alasan mengapa ia bisa berada di sini. Cukup lama ia melihat senyuman itu, sebelum akhirnya bibirnya ikut tersenyum.
       ''Sungmin-ssi.'' Sungmin melihat Mina dengan tampang yang polos saat gadis itu memanggilnya. ''Maukah kau menjadi temanku?'' Sebuah pertanyaan yang membuat Sungmin membulatkan matanya. Ia juga melihat Mina yang mengulurkan tangannya.
       Sungmin memperhatikan uluran tangan itu cukup lama. Ia menatap kembali Mina, setelahnya ia menjabat uluran tangan itu. Sambil tersenyum ia berkata, ''tentu saja! Teman!''





 *****+ TBC +*****





16 Juli 2016
Powered by Blogger.

Translate

Labels

15& 2AM 2NE1 2PM 5Dolls 9Muses After School Ahn Eunjin Ahn Seo Hyun Ahn Sohee auliasyalwa B.A.P B1A4 Bae Sun Mi Bae Suzy Baek A Yeon Baek Azizah Baek Yebin Baek Yerin Bambam Baro Bestie Big Bang Boyfriend Brothership BTOB BTS Byun Baekhyun Cha Hyun Rin Chapter Cho Kyuhyun Choi Hanny Choi Seung Hyun Choi Seungri Choi Siwon Choi Sungmin Choi Youngjae Cholict Click-B CNBLUE Comedy D.O Davichi DAY6 DIA Do Kyung Soo Donghyun Drama Eunhyuk EXO EXO-K EXO-M F.T. Island Fafiter Challenge Family FANFICTION Fantasy Friendship GFriend Girls' Generation Go Ahra GOT7 Ham Eunjung Han Hye Sun Han Hyo Joo Han Hyori Han Nayeon Hurt Hwang Chansung Hwang Minhyun Im Yoona Jang Geun Suk Jang Wooyoung Jenny Jeon Boram Jia Jinyoung Joo Ji Hoon Jr Jung Ho Seok Jung Il Woo Jung Jinwoon Jung Min Joo Jung Yerin Jung Yong Hwa Juniel Kaeun Kang Hye Ri Kang Hyo Rya Kang Min Hyuk Kang Yo Ra Kang Young Hyun Khunpimook Bhuwakul Kim Bum Kim Dani Kim Hanny Kim Hanny/Choi Hanny Kim Ji Ah Kim Jong In Kim Jong Woon Kim Min Jung Kim Nam Gil Kim Nam Joon Kim Nana Kim Naya Kim Seok Jin Kim So Eun Kim Soo Hyun Kim Sookyu Kim Wonpil Kim Woo Bin Kim Yugyeom Kris Wu Krystal Jung Lee Areum Lee Donghae Lee Hae Na Lee Hyo Jin Lee Hyo Ra Lee Hyukjae Lee Jae In Lee Jang Woo Lee Ji Eun Lee Jong Suk Lee Junho Lee Keina Lee Keumjo Lee Min Ho Lee Qri Lee Seung Gi Lee Sungmin Lee Sunny Lee Yo Won Married-life MellyTaenggo MeloDrama Min Yoon Gi Mistery Myoui Mina Na Haeryung Nam Gyuri Nichkhun Horvejkul Noh Lee Young NU'EST OC Oh Ha Ni Oh Jong Hyuk Ok Taecyeon OneShoot Park Chan Yeol Park Hyomin Park Jae Hyung Park Ji Eun Park Jihyo Park Jimin Park Jiyeon Park Keyla Park Se-young Park Shin Hye Park Soyeon Park Sungjin Park Yeon Jung Rap Monster Risma Song Romance Romantic Roy Kim Ryewook Sandara Park Sandeul School-life SeoHyun Sequel Shannon William Song Minyoung Sowon SPEED Sung Hyun Jae Super Junior T-Ara The Ark Tiffany Hwang Tiramisuu Latté TOP Trilogi Twice TwoShoot U-Kiss Upi Hwang V Wonder Girls Yaoi Yesung Yoo Youngjae Yook Sung Jae Yoon Dowoon Yoon Eun Hye Young K Yuna Kim